Oleh humasnew on April 04, 2018

Jakarta (04/04)--- Pengkaderan Pemuda Anti Narkoba oleh Kemenpora di Provinsi Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur telah dilakukan pada tahun 2016 lalu. Proses pengkaderan ini masih perlu tindak lanjut pembinaan yang rencananya berjalan secara berkelanjutan. Selain itu, peran Pemerintahan daerah yang bersinergi dengan Pemerintah Pusat dalam rangka pencegahan penyalahgunaan narkoba juga perlu ditingkatkan sesuai dengan Permendagri No.21/2013 tentang Fasilitasi Pencegahan Penyalahgunaan Narkotika. Topik bahasan itu mengemuka dalam rapat koordinasi teknis yang membahas pencegahan bahaya penyalahgunaan narkoba di kalangan pemuda. Rakornis dibuka oleh Deputi bidang Koordinasi Kebudayaan Kemenko PMK, Nyoman Shuida dan dihadiri oleh Deputi bidang Pemberdayaan Pemuda Kemenpora, Faisal Abdullah; serta perwakilan dari Kemendagri, BNN, para Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) dari Jabar, Jateng, dan Jatim. Sesi diskusi untuk mendapatkan masukan dalam rakornis ini selanjutnya dipandu oleh Asisten Deputi Kepemudaan Kemenko PMK, Alfredo Sani Fenat.

Upaya sinergis melalui koordinasi Kemenko PMK dalam rakornis antara lain meliputi pendataan Kader Pemuda Anti Narkoba tahun 2016 dan 2017 oleh Kemenpora; Penyempurnaan dan Rencana Pelaksanaan Program (KIPAN) Tahun 2018 oleh Kemenpora; Konsep Kebijakan Nasional (Grand Design) Pencegahan Bahaya Penyalahgunaan Narkoba; dan Peningkatan peran Pemda.

“Sebagai kader inti yang sudah diberikan pelatihan dan penyuluhan, mereka memang sudah sepatutnya kita dukung penuh. Mereka adalah pemuda-pemuda kreatif yang menyebarluaskan pengetahuan tentang bahaya narkoba dengan cara mereka yang kreatif. Bahkan ada yang sampai mendirikan sekolah anti narkoba,” papar Faisal. “Anti Narkoba sebagai gerakan bersama ini butuh komitmen dan sinergi yang kuat dari semua pihak, bila perlu jadi thema tersendiri dari Gerakan Nasional Revolusi Mental yang sudah ada.”

Dispora Provinsi Jawa Timur dalam keterangannya mengungkapkan bahwa sudah merekrut sekitar 520 kader di tahun 2017 lalu. Mereka telah diberikan pemantapan dalam proses pengkaderan bahkan disiapkan untuk dapat masuk ke berbagai organisasi kepemudaan. “Untuk masalah pencegahan narkoba ini memang perlu suatu sistem yang kuat dan melibatkan semua pihak, mulai dari budayawan, tokoh masyarakat, dan sebagainya. Bila perlu, masalah narkoba ini dimasukkan dalam kurikulum di sekolah-sekolah,” kata Perwakilan Dispora Jatim. Sementara Dispora Jabar mengakui bahwa program pengkaderan Pemuda Anti Narkoba menjadi unggulan di Jawa Barat. mereka yang terpilih menjadi kader selanjutnya mengajak kaum muda Jawa Barat untuk lebih banyak berolahraga sambil mengkampanyekan bahaya narkoba. (*)