Oleh humas on July 26, 2018

Bandung (25/07)  Kaum perempuan harus jeli dan pandai memanfaatkan situasi serta mampu meraih peluang sisi positif sebagai upaya pengembangan diri termasuk pengembangan perekonomian. Demikian dikatakan Asisten Deputi Pemberdayaan Perempuan Kemenko PMK, Wagiran di Rakor Peningkatan Peran dan Kapasitas Kelompok Perempuan Dalam Pembangunan pada Provinsi Jawa Barat yang berlangsung di Hotel Horison Bandung, Jawa Barat.

Wagiran yang dalam kesempatan ini Deputi Bidang Koordinasi Perlindungan Perempuan dan Anak Kemenko PMK mengatakan, bahwa perkembangan teknologi dan komunikasi banyak faktor positif dan negatifnya untuk memajukan usahanya. Apalagi semua itu berbasis dengan digital, oleh sebab itu kaum perempuan harus jeli dan pandai memanfaatkan situasi serta mampu meraih peluang sisi positif sebagai upaya pengembangan diri termasuk pengembangan perekonomian kaum perempuan. 

Dalam menghadapi perubahan industri yang terjadi, perempuan pun harus mempersiapkan diri dan turut pengambil peran dalam memasuki era industry 4.0 (Four Point Zero). Dijelaskannya, pada era Industry 4.0, merupakan peluang bagi kaum perempuan untuk dapat meningkatkan peran dan kapasitasnya. Perempuan perlu kesetaraan, baik dari akses gender, partisipasi kerja maupun pendidikan. Menurut Wagiran, dilihat dari pekerjaan masih sangat sedikit yang mempekerjakan kaum perempuan, seperti dibidang komputer, arsitek, mesin dan lainnya, yang memerlukan investasi dalam memperoleh STEAM (Science, Technology, Engineering, and Mathematics). 

Pekerjaan tertentu, lanjutnya, masih banyak diperioritaskan bagi kaum lak-laki. Dengan berkembangnya teknologi, kaum perempuan dapat bekerja tidak harus diluar rumah, kaum perempuan dapat bekerja di sektor jasa, melakukan pemberdayaan melalui UMKM dengan menjual melalui E. Commerce/online. Dalam bidang politik misalnya, partisipasi perempuan di kota Bandung hanya mencapai 22% dan di Kabupaten Kota 18%. Kondisi itu, butuh sosialisasi bagi daerah dan wilayah lainnya. Padahal keterwakilan perempuan pada lembaga legislatif secara nasional menurut UU Pemilu diisyaratkan 30%. Sayangnya di tingkat nasional pun masih mencapai 16-17%. 

Meskipun begitu, Wagiran menyoroti, penyerapan tenaga kerja di kota Bandung makin meningkat, terutama dalam bidang industri, garmen, perhotelan, transportasi dan kesehatan, yang mana banyak menyerap tenaga kerja kaum perempuan, karena perusahaan cenderung tidak melibatkan tenaga laki-laki karena banyak tuntutan. Meskipun pada sisi lain tingkat partisipasi kaum perempuan lebih rendah dari laki-laki.

Ditambahkannya, penyusunan kebijakan harus diprioritaskan atau berpihak bagi pemenuhan hak kaum perempuan, sehingga hambatan dan permasalahan yang dihadapi kaum perempuan dapat terselesaikan dengan baik. Kedepannya agar terdapat upaya yang jelas pada pemenuhan kebutuhan perempuan, termasuk perempuan miskin. Pemerintah sendiri, sebutnya, secara kontinyu dan berkelanjutan melakukan berbagai upaya dalam rangka meningkatkan peran perempuan atau kelompok perempuan dalam pembangunan di semua bidang. Hal ini tercermin pada Inpres No. 9 Tahun 2000 tentang Pengarusutamaan Gender (PUG) dalam pembangunan nasional.

Rakor Peningkatan Peran dan Kapasitas Kelompok Perempjuan Dalam Pembangunan pada Provinsi Jawa Barat kali ini juga merupakan upaya mendukung PUG. Acara ini memiliki makna besar bagi kaum perempuan, karena sebagai wujud nyata bahwa pemerintah konsen serta memiliki perhatian yang besar bagi kaum prerempuan dalam pemenuhan hak serta kebutuhan kaum perempuan guna meningkatkan peran dan kapasitas perempuan dalam pembangunan.

Rakor dibuka oleh Setda Provinsi Jawa Barat Iwa Kamiwa. Dalam sambutan pembukaan acara tersebut Setda menyampaikan bahwa potensi perempuan harus lebih luar biasa dari kaum laki-laki. Pasalnya, kaum perempuan selaku ibu rumah tangga, harus lebih berperan aktif, baik pada sisi domestik, maupun penggiat program pemerintah dalam meningkatkan kualitas hidup keluarga. Termasuk sebagai pendukung utama bagi kemajuan dan peningkatan karier suami. Pun halnya dalam peningkatan kualitas kepribadian, karakter dan pendidikan putra putrinya. Dihimbaunya pula kepada kaum perempuan agar menjauhkan persaingan diantara kaum perempuan, hargai perbedaan pendapat, lengkapi kekurangan masing-masing, jadikan permasalahan sebagai wujud pembelajaran dalam menata kehidupan yang lebih baik. (Kedeputian VI)