Oleh humas on July 29, 2018

Banda Aceh (28/7) – Staf Ahli Bidang Kependudukan Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan RI, Sonny Harry B Harmadi, Sabtu siang hingga sore memberikan kuliah umum di Universitas Syiah Kuala (Unsyiah) Aceh. Materi kuliah umum tentang implementasi pendidikan kependudukan bertema generasi millennial, bonus demografi dan masalah kependudukan di Indonesia. 

Kuliah umum didahului sambutan Rektor Universitas Syiah Kuala yang dalam hal ini diwakili oleh Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan Unsyiah, Dr. Alfiansyah Yulianur. Turut menyambut Kepala Perwakilian BKKBN Provinsi Aceh yang menyampaikan pentingnya kuliah umum tentang bonus demografi ini.

Dalam paparannya, Sonny menjelaskan bahwa generasi millennial adalah mereka yang lahir pada tahun 1990 ke atas, sangat dipengaruhi oleh perkembangan IPTEK, olah raga serta budaya musik terutama musik pop. Mereka sering disebut “connected kids”. Umumnya, generasi millennial berpendidikan baik dan menyukai fashion. Menurut Sonny, sebagian besar aspek kehidupan dalam generasi millennial, sangat dimanjakan oleh teknologi digital, yang di dalamnya terdapat interaksi sosial, pertemanan dan sebagainya. Kendati demikian, efek negatif kecanggihan teknologi itu nyatanya perlu diwaspadai mengingat generasi millennial bisa menjadi subjek utama pelaku penyebar ujaran kebencian, hoaks, tindakan intoleransi dan radikalisme.

“Salah satu efek negatif media digital bagi generasi millennial adalah kemudahan mengakses berbagai konten pornografi dan akhirnya dapat memicu pernikahan di usia muda. 

Sonny menjelaskan bahwa selama periode 2012-2042, Indonesia berada dalam periode bonus demografi. Untuk dapat mentransformasi bonus demografi menjadi bonus ekonomi, butuh prasyarat penduduk usia produktif yang berkualitas. “Pembentukan kualitas manusia berawal dari janin dalam kandungan. Oleh karenanya kebijakan terkait 1000 hari pertama kehidupan sangat krusial,” jelas Sonny. Dengan waktu tersisa kurang dari 25 tahun, periode bonus demografi dioptimalkan dg berbagai terobosan kebijakan pembangunan manusia. Oleh karenanya, Menko PMK, Puan Maharani selalu menekankan pentingnya intervensi menyeluruh di lokus yang sama, seperti misalnya dalam program penanganan stunting.

SDM berkualitas juga terkait dengan pembentukan karakter yang kuat. Gerakan Nasional . “Revolusi Mental yang didasarkan pada tiga nilai strategis, yaitu integritas, etos kerja dan gotong royong bukan sekedar untuk didiskusikan tetapi dipraktekan dari mulai diri sendiri,” jelas Sonny yang saat ini juga merangkap sebagai Plt. Deputi Bidang Pemberdayaan Masyarakat, Desa, dan Kawasan Kemenko PMK. Tiga nilai strategis tersebut harus dilakukan dengan perubahan cara berfikir, cara kerja dan cara hidup. untuk itu peran generasi muda dalam mewujudkan gerakan revolusi mental sangat diperlukan.

Kembali terkait kependudukan, Sonny menjelaskan tentang apa indikator suatu negara telah berada dalam periode bonus demografi. Menurutnya, bonus demografi dialami suatu negara saat rasio ketergantungannya di bawah 50. “Jika rasio ketergantungan angkanya 45, artinya bahwa setiap seratus penduduk usia produktif menanggung 45 penduduk usia nonproduktif,” tambah Sonny. Indonesia sangat beruntung karena termasuk negera yang dapat menikmati bonus demografi. Adapun faktor utama mengapa saat ini Indonesia bisa masuk dalam periode bonus demografi karena keberhasilan Indonesia dalam program keluarga berencana.

Selain penduduk berkualitas, terdapat sejumlah prasyarat agar bonus tidak berubah menjadi bencana demografi, tersedianya lapangan kerja yang layak, peningkatan akses tabungan rumah tangga, meningkatnya peran perempuan dalam pasar kerja, dan tetap menjaga keberhasilan program KB. Untuk bisa memanfaatkan peluang bonus demografi, generasi millennial harus bisa menempa dirinya menjadi sosok generasi muda masa depan yang berkualitas, karena merekalah yang akan menjadi penentu nasib bangsa ini.

Pesan Sonny untuk generasi muda, agar mereka bisa menjadi pelopor perubahan. Karena banyak orang yang berpikir ingin merubah dunia , tetapi tidak banyak yang berpikir untuk merubah dirinya sendiri.

Mengakhiri kuliah umumnya, Sonny yang juga Ketua Umum Koalisi Kependudukan Indonesia mengutip kata-kata, “young people today, parents tomorrow. Generasi muda yang hebat akan menjadi modal bagi mereka kelak sebagai orang tua hebat.” Untuk itulah, generasi milennial harus menjadi generasi hebat yang mendukung pemanfaatan bonus demografi.

Turut hadir dan mengikuti kuliah umum ini antara lain Dekan FMIPA Unsyiah, Dr. Teuku M. Iqbalsyah, Kepala Perwakilan BKKBN Provinsi Aceh, Sahidal Kastri, Ketua Pusat Studi Sosbud Unsyiah, Prof. Saleh Safei, Ketua Ikatan Statistisi Aceh, Dr. Saiful Mahdi, serta para staf pengajar Unsyiah.

Categories: