Oleh humasnew on September 04, 2018

Solo, Jateng (04/09)--- Sejarah telah memperlihatkan bagaimana kekayaan budaya Indonesia dengan segala isinya menunjukan adanya kesamaan karakter, seperti karakter gotong royong, persatuan dan tolong menolong di antara sesama bangsanya. Seiring berjalannya kehidupan berbangsa, masyarakat yang menghormati dan selalu menjunjung tinggi sejarah dan warisan budayanya akan  melahirkan generasi masa depan bangsa yang memiliki karakter itu. Demikian penegasan Deputi bidang Koordinasi Kebudayaan, Kemneko PMK, Nyoman Shuida, dalam sambutannya yang dibacakan oleh Asisten Deputi Warisan Budaya, Pamuji Lestari, pada forum Rakor Penguatan Nilai-nilai Kesejarahan melalui Pelestarian dan Pengelolaan Warisan Budaya di Kota Solo, Jawa Tengah, Selasa pagi. Dengan mengusung tema “Penguatan Nilai-nilai Sejarah untuk Membentuk Manusia Indonesia yang Berbudaya dan Berkarakter,” Rakor ini dibuka oleh Walikota Solo, FX Hadi Rudyatmo, dan dihadiri oleh SKPD terkait.
Nyoman dalam sambutannya menjelaskan, dalam rangka meningkatkan pemahaman nilai-nilai kesejarahan dan mengembangkan karakter bangsa kita dapat melakukannya dengan berbagai cara, salah satunya adalah dengan melakukan wisata sejarah dan budaya di daerah masing-masing atau antardaerah. Terlebih, saat ini generasi muda Indonesia tengah getol melakukan berbagai kegiatan wisata. “Melalui media wisata para pendidik atau guru dan generasi zaman nowdapat mengenalkan hal-hal yang berhubungan dengan budaya melalui sebuah tinjauan terhadap kekayaan sejarah, sehingga pemahaman terhadap culture yang beragam di Indonesia bisa diketahui dan dipahami serta diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari. Selain akan mengembangkan bidang sejarah dan budaya,  generasi muda tersebut diharapkan akan mengetahui bagaimana sejatinya masa lalu bangsanya, bagaimana perubahan yang terjadi, perjuangan serta dinamika masyarakat yang cukup heterogen dan yang terpenting adalah ada makna dan nilai yang terkandung di dalamnya,” papar Nyoman lagi.
Mendidik moral bangsa, menurut Nyoman, tidak hanya bisa didapatkan dari pendidikan Pancasila atau kewarganegaraan. Kekayaan bangsa bisa menjadi alternatif dalam proses pembentuk kesadaran dan dari kesadaran nantinya akan lahir karakter bangsa yang pernah menjadi kebanggaan seperti gotong-royong, persatuan dan tolong menolong. “Karakter-karakter seperti itulah yang membawa bangsa Indonesia berhasil mencapai Kemerdekaan 17 Agustus 1945. Hal ini sesuai dengan yang dikatakan oleh Presiden Soekarno tentang “Nation And Character Building”,  bahwa bangsa Indonesia harus sadar akan identitasnya sebagai bangsa yang besar sehingga kita sebagai generasi penerus bangsa sudah selayaknya cinta dan bangga pada Tanah Air Indonesia.

Upaya menjaga warisan budaya Indonesia yang kaya dengan nilai-nilai luhur karakter asli bangsanya ini sesungguhnya sudah diperkuat oleh Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan telah menerbitkan Surat Keputusan Menko PMK Nomor 20 Tahun 2016 tentang Tim Koordinasi Pelestarian dan Pengelolaan Warisan Budaya dan Alam Indonesia, yang anggotanya terdiri dari 12 Kementerian/Lembaga yang saat ini sedang diusulkan untuk diperluas lagi menjadi 24 Kementerian/Lembaga mengingat mainstreaming kebudayaan sangat penting untuk diprioritaskan. Dalam memajukan kebudayaan Indonesia terdapat tujuh pilar yang seharusnya menjadi pedoman bagi Pemerintah, Pemerintah Daerah, Akademisi dan Masyarakat, yaitu Pelestarian Hak Kebudayaan; Pembangunan Jati Diri dan Karakter Bangsa dan Multikulturalisme; Pelestarian Sejarah dan Warisan Budaya; Pengembangan Industri Budaya; Penguatan Diplomasi Budaya; Pengembangan Pranata Kebudayaan dan SDM Kebudayaan; dan Pengembangan Sarana dan Prasarana Kebudayaan.
Rakor ini kemudian menyepakati bahwa Perlunya kerjasama dan komitmen Pemerintah (Pusat, Provinsi Jawa Tengah, dan Kabupaten/Kota Solo Raya), Akademisi, Dunia Usaha, Media dan lembaga/kelompok masyarakat dalam upaya menumbuhkembangkan kesadaran Cinta Tanah Air melalui penguatan nilai-nilai kesejarahan dalam membangun budaya dan karakter serta kemandirian bangsa yang didukung kebijakan pembangunan di bidang kebudayaan. Memori kolektif yang terkandung dalam warisan budaya memiliki peran penting sebagai identitas nasional di masa lalu, masa kini dan masa mendatang. Oleh karena itu, keberadaan objek dan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya perlu dilestarikan dan dikelola secara terintegrasi dan berkesinambungan. Krisis karakter dan nasionalisme yang menjadi ancaman para generasi muda di wilayah Provinsi Jawa Tengah dan Solo Raya antara lain merupakan dampak dari kemajuan arus globalisasi. Oleh karena itu diperlukan keterlibatan Generasi Muda dalam upaya pembentukan dan penguatan Karakter Bangsa melalui pengenalan dan pembelajaran objek dan nilai warisan budaya lokal.
Kesepakatan lain yang dicapai adalahperlunya penyusunan peta jalan (road map)pendidikan karakter bangsa sebagaimana amanat dalam RPJMN 2015-2019; Perlu kebijakan pemerintah dalam pengelolaan warisan budaya bernilai sejarah dengan memperhatikan nilai budaya, nilai kawasan dan nilai ekonomi melalui keterlibatan masyarakat secara aktif dan berkesinambungan; Perlunya terobosan program dan aksi nyata dari seluruh pihak baik di pusat maupun di daerah sebagai media transformasi nilai-nilai budaya, penguatan ikatan-ikatan sosial masyarakat, dan pengembangan ilmu pengetahuan untuk mengokohkan peradaban umat manusiaIndonesia seutuhnya; Perlunya kurikulum Sejarah yang dikemas dalam pembelajaran yang aktif, kreatif, efektif, inovatif dan menyenangkan dalam upaya menumbuhkan minat terhadap mata pelajaran sejarah.

Kemenko PMK sendiri perlu menggelar rapat koordinasi lanjutan dengan melibatkan Kementerian/Lembaga terkait, Pemerintah Provinsi Jawa Tengah dan Pemerintah Kabupaten Sragen dan Karanganyar dalam penyelesaian masalah warisan dunia untuk Situs Manusia Purba Sangiran. Selain itu, perlu adanya pengalokasian anggaran pada kegiatan terkait dengan penguatan nilai-nilai kesejarahan melalui pelestarian dan pengelolaan warisan budaya di Provinsi Jawa Tengah dan Kabupaten/Kota Solo Raya secara proporsional dan berkelanjutan; Perlunya pembentukan dan penguatan kelembagaan yang menangani sejarah pada Provinsi Jawa Tengah dan Kabupaten/Kota Solo Raya; Perlu penguatan kelembagaan, kerjasama, dan jejaring komunitas masyarakat sejarah yang difasilitasi oleh Pemerintah, Pemerintah Provinsi Jawa Tengah dan Pemerintah Kabupaten/Kota Solo Raya; dan Pemerintah Pusat, Pemerintah Provinsi Jawa Tengah dan Pemerintah Kabupaten/Kota Solo Raya melakukan pengembangan pendanaan pemajuan kebudayaan termasuk penguatan nilai-nilai kesejarahan yang berasal dari APBN, APBD, DAK Kebudayaan, Masyarakat dan atau Dunia Usaha sesuai dengan ketentuan peraturan perundangan. (sumber: Asdep Warisan Budaya, Kemenko PMK)

Categories: