Oleh humasnew on December 04, 2018

Jakarta (04/12)--- Setelah tercatat sebagai negara dengan masyarakat yang paling gemar berdonasi menurut CAF World Giving Index 2017, Indonesia terus mengajak para pemangku kepentingan, dunia usaha, dan warga dunia untuk tetap bersemangat saling membantu sesama terutama dalam upaya memerangi kemiskinan dan masalah lain yang ditimbulkannya.  Pernyataan itu disampaikan oleh Deputi bidang Koordinasi Penanggulangan Kemiskinan dan Perlindungan Sosial, Kemenko PMK, Tb Achmad Choesni, saat mewakili Menko PMK pada pertemuan Yogya Rotary Institute Zone 6B-7A-10B  tahun 2018 di Hotel Tentrem, Yogyakarta, Sabtu lalu (01/12).

Mengawali sambutannya, Choesni menyoroti motto Rotary Club selaku Penyelenggara acara yang dinilainya sangat relevan dengan konteks budaya Indonesia yaitu “Service above Self”  atau Mementingkan Kegiatan Saling Membantu daripada Kepentingan Diri Sendiri.

Berdasarkan  hasil survei Charities Aid Foundation (CAF) yang berbasis di Inggris, ungkap Choesni, Indonesia berada pada posisi kedua dalam peringkat CAF World Giving Index 2017 setelah Myanmar, disusul Kenya, Selandia Baru dan Amerika serikat di posisi tiga, empat dan lima dari 139 negara dengan masyarakat paling sering berdonasi. Index ini mengukur tingkat kebaikan masyarakat lewat tiga pertanyaan utama. Pernahkan membantu orang asing? Menyumbang uang untuk aksi sosial dan meluangkan waktu untuk menjadi relawan sebuah organisasi? The World Giving Index 2017 menggunakan data dari seluruh dunia sejak lima tahun terakhir (2012-2016) serta memasukkan data dari 139 negara sepanjang tahun 2016.

Lebih lanjut, Tb. A. Choesni menyampaikan empat poin penting yang dapat dijadikan bahan pertimbangan Rotary dalam mendukung pencapaian SDGs. Pertama, pentingnya kesiapan sejak dini; Kedua, penguatan upaya bersama; Ketiga, perlu fokus pada quick win; dan keempat, optimalisasi peran CSR dan amal masyarakat.

“Terkait dengan kesiapan sejak dini, kita perlu belajar dari kegagalan MDGs yaitu terlambat untuk siap dan aksi. Maka kemudian perlu pelibatan peran aktif empat pemangku kepentingan, Pemerintah, Organisasi Masyarakat Sipil, Dunia Usaha dan Akademisi. selain itu, juga perlu dari unsur Parlemen. Upaya bersama secara gotong royong dapat di fokuskan pada target prioritas RPJM 2015-2019, antara lain upaya penanggulangan kemiskinan dan target SDGs lainnya,” papar Choesni lagi. Selain itu, tambahnya, perlu fokus pada Qick Win, dengan membumikan SDGs di daerah, sinergi program 8 K/L di 40 desa sebagai bagian quick win pencapaian SDGs di Indonesia. Terakhir, bagaimana mengoptimalkan perani CSR dan amal masyarakat termasuk Rotary Club.

Sementara itu, Gubernur Distrik (pimpinan tertinggi Distrik) 3410 Indonesia Rotary Internasional, Yusuf Djemat, memperkenalkan bahwa Rotary Club terdiridari 20- 30 anggota dari berbagai profesi yang bebeda. Di Yogyakarta terdapat 9 Rotary Clubs dan di District 3410 Indonesia Barat, terdapat sekitar 60 Rotary Clubs dan mempunyai sekitar 1.300 anggota yang tersebar di kota-kota besar di Indonesia. Fokus kegiatan Rotary dalam pengabdian ke masyarakat dilaksanakan dalam bentuk bantuan untuk sanitasi dan air bersih, kesehatan Ibu dan Anak, pemberantasan penyakit menular, pengembangan literasi (melek baca) dan pendidikan, pemberdayaan ekonomi masyarakat dan perdamaian dunia.

Pertemuan Yogya Rotary Institute Zone 6B-7A-10B  tahun 2018 dihadiri sekitar 1.200 orang yang merupakan perwakilan dari 30 distrik, 3 zona (6B-7A-10B) di Asia yang berasal dari 14 negara, yakni Thailand, Kanada, Laos, Pakistan, Bangladesh, Malaysia, Singapura, Brunei, Philipina, Hongkong, Makao, Mongolia, Taiwan dan Indonesia. (sumber: Kedep II Kemenko PMK)