Oleh humas2 on January 04, 2016

Jakarta, 4 Januari, - Kemenko PMK melalui Deputi menko PMK Bidang Koordinasi Kebudayaan Haswan Yunaz ( kedua kiri) memberikan apresiasi langkah Provinsi Bali menjadi pelopor dalam Deklarasi Gerakan Nasional Revolusi Mental, Sabtu, 2/1/2016, di Denpasar, Bali.

Menurutnya, GNRM bukanlah program instan yang dapat diwujudkan dalam hitungan hari.

“Ini merupakan proyek nasional jangka panjang yang membutuhkan dukungan seluruh komponen masyarakat,” ujarnya.

Dalam kesempatan tersebut dilakukan pembakaran papan bertuliskan hambatan-hambatan bagi revolusi mental yang disaksikan Deputi Menko PMK Haswan Yunaz, Wakil Gubernur Bali Ketut Sudikerta, Ketua TP PKK Provinsi Bali Ny.Ayu Pastika, perwakilian dari Kodam IX/Udayana, Polda Bali, Ketua BPKP, BPK, Ombudsmen RI Perwakilan Bali, Bupati/Walikota se-Bali, Bendesa Agung MUDP, FKUB, PHDI, Pimpinan SKPD serta pejabat eselon III dan IV di Lingkungan Pemprov Bali serta masyarakat umum. 

Sementara itu, Gubernur Bali I Made Mangku Pastika meminta agar Gerakan Nasional Revolusi Mental (GNRM) tidak terhenti pada kegiatan seremonial, tetapi harus dimaknai dengan sungguh-sungguh. Ajakan ini disampaikan saat Deklarasi GNRM di Gedung Wiswa Sabha Utama Kantor Gubernur Bali, Sabtu (2/1/2016).

Bali menjadi provinsi pertama yang secara resmi mendeklarasikan GNRM ini.

Kebulatan tekad dalam mendukung dan menyukseskan gerakan yang terkait dengan perubahan perilaku ini diwarnai dengan penghancuran dan pembakaran papan yang bertuliskan sejumlah karakter yang menjadi penghambat gerakan revolusi mental.

Deklarasi GNRM ini tertuang dalam pernyataan sikap yang ditandatangani Gubernur Bali Made Mangku Pastika, Wakil Ketua DPRD Bali Nyoman Sugawa Korry, dan Sekda Provinsi Bali Cokorda Ngurah Pemayun selaku Koordinator Umum GNRM Provinsi Bali.

Ada 18 karakter yang harus dilawan dan dihancurkan dalam mendukung gerakan revolusi mental ini.

Karakter tersebut antara lain selalu berpikir negatif, suka menunda pekerjaan, tidak fokus, kurang percaya diri, selalu pesimis, malas, masa bodoh, mudah menyerah, serakah, egois/mementingkan diri sendiri, boros, tidak jujur, anti perubahan, menghindari tanggung jawab, tak memiliki komitmen, meremehkan mutu, feodal, dan munafik.

Gubernur Pastika mengatakan, karakter itulah yang sekarang ini mendominasi kehidupan sebagian besar masyarakat.

Menurutnya, kondisi itu membuat perkembangan bangsa menjadi sangat lambat dan jauh ketinggalan dibandingkan bangsa lainnya. Pastika lalu mencontohkan perkembangan negara Singapura.

Negara yang luasnya jauh lebih kecil dari Pulau Bali itu mengalami kemajuan yang sangat pesat.

“Kita punya luas wilayah tujuh kali lipat dari negara tersebut dan punya potensi alam yang jauh lebih besar. Tapi kenapa negara itu bisa jauh lebih maju,” ujarnya.

Menurut Pastika, kemajuan Singapura antara lain dipengaruhi oleh kualitas sumber daya manusianya dalam mengelola potensi yang ada.

“Sementara kita yang kaya akan potensi, malah jadi manja dan lembek,” tandasnya.

Menurut Pastika, karakter yang cenderung merugikan itu harus diperangi dalam GNRM.

Pastika meminta, deklarasi GNRM yang ditandai dengan penghancuran dan pembakaran hambatan dan tantangan dimaknai dengan sungguh-sungguh serta tak terhenti pada kegiatan seremonial.

Deklarasi ini, kata dia, bukan untuk gagah-gagahan.

Dia berharap, deklarasi yang diawali dari Bali dapat memberi vibrasi positif ke seluruh penjuru tanah air.

“Ayo kita mulai gerakan revolusi mental dari diri sendiri,” ajaknya.

Dalam gerakan revolusi mental, ujar Pastika, tiap individu bisa memulainya dari hal-hal kecil seperti tidak membuang sampah sembarangan, tepat waktu, dan berlomba-lomba untuk berbuat baik. Lebih dari itu, orang nomor satu di Bali ini juga berbagi tips dalam mewujudkan etos kerja yaitu melalui kerja keras, kerja cerdas, kerja berkualitas, kerja iklas dan kerja tuntas.(dbs/Gs).

 

Categories: