Oleh humasnew on September 18, 2018

Jakarta (17/09) - Perubahan iklim yang menjadi isu pembangunan global saat ini telah menjadi variabel penting yang mmpengaruhi kehidupan dan kesejahteraan komunitas. Berdasarkan hal tersebut, hari ini Friedrich Ebert Stiftung (FES) bekerjasama dengan Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Kemenko PMK), hari ini menggelar pertemuan untuk memaparkan penelitian terkait gender dan iklim bertajuk "Ketangguhan yang Tersembunyi: Narasi Perempuan pada Strategi Bertahan dari Dampak Perubahan Iklim".

Pertemuan dibuka oleh Rina Julvianty, Program Officer FES dan Zuraini, Kepala Bidang Perlindungan Perempuan Kemenko PMK, Zurainy. Para peneliti melakukan studi di tiga wilayah, yaitu Desa Banjarejo, Kecamatan Tanjungsari, Kabupaten Gunungkidul, Kampung Tambaklorok dan Kelurahan Krobokan, Kecamatan Tanjungmas, Kota Semarang dan Desa Sungai Batang, Kecamatan Air Sugihan, Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI) yang dilaksanakan antara bulan September-Oktober 2017 lalu. 

Studi menemukan bahwa iklim menjadi salah satu variabel yang berkontribusi pada kesejahteraan dan relasi gender. Pembangunan mellaui rangkaian kebijakan dan program serta norma dan praktik sosial, secara bersama-sama mempengaruhi narasi soal gender, pola konsumsi dan perubahan iklim. Dalam situasi dimana kebijakan dan program pembangunan bisa secara efektif mendekatkan aksesibilitas dan ketersediaan pangan, air dan energi, dampak dari perubahan iklim  bisa diminimalkan. 

Studi menemukan bukti-bukti bahwa perubahan iklim membawa dampak yang berbeda bagi laki-laki dan perempuan. Studi juga menemukan sebuah fakta menarik bahwa perempuan memiliki peran sekaligus tanggung jawab penting dalam memastikan ketersediaan pangan bagi anggota keluarga. 

Dari pertemuan hari ini didapat empat rekomendasi yaitu: 1) perempuan dan laki-laki menghadapi situasi dan dampak yang berbeda, sehingga perlu memastikan konsultasi memadai tentang kebijakan, program dan kegiatan mitigasi dan adaptasi yang dilakukan di berbagai level, baik pusat, daerah, maupun desa sehingga tepat dan berguna baik bagi laki-laki maupun perempuan; 2) penguatan partisipasi da kepemimpinan dalam upaya mitigasi dan adaptasi d berbagai level, melalui rekognii dan penguatan kapsitas yang tepat; 3) proteksi dan skema khusus bagi kelompok rentan dalam mitigasi dan adaptasi perubahan iklim dengan penguatan jaring pengaman sossial, baik melalui kebijakan negara dan pelayanan publik, maupuns kema berbasis komunal; dan 4) transfer teknologi dalam pengelolaan sumber daya yang lebih lestari, perlu mempertimbangkan perbedaan kondisi, kebutuhan dan tantangan yang dihadapi oleh perempuan dan laki-laki, serta kondisi khas kelompok rentan. 

Hadir pula dalam pertemuan ini perwakilan Kementerian Pemberdayaan Perepuan dan Perlindungan Anak, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Kementerian Kelaitan dan Perikanan, Kementerian Dalam Negeri dan USAID. (olv)

Categories: