Oleh humas2 on November 07, 2016

Lebak (06/11)--- Mewakili kehadiran Menko PMK, Puan Maharani, Deputi bidang Koordinasi Pemberdayaan Masyarakat, Desa dan Kawasan, I Nyoman Shuida, membuka Festival Baduy 2016 pada 4 - 6 November 2016 lalu. Sambutan Menko PMK yang dibacakan oleh I Nyoman Shuida berthemakan “Bersama Menuju Masyarakat Adat yang Mandiri” itu berlangsung di Kampung Kaduketug, Desa Kanekes, Kec Leuwidamar, Kab Lebak, Banten.

Hadir dalam festival ini, Staf Ahli Kemenko PMK bidang UMKM, Ekonomi Kreatif dan Ketenagakerjaan, Sidqi Lego Pangesti beserta rombongan; Bupati Kabupaten Lebak dan jajarannya; DPRD Kab. Lebak; Perwakilan: Kementerian Pariwisata, Kementerian LHK, Kementerian Desa, PDT dan Transmigrasi, Kementerian Komunikasi dan Informasi, Kementerian Sosial; DFAT; The Asia Foundation; Kemitraan; Rimbawan Muda Indonesia/RMI; dan Pengelola Nama Domain Internet Indonesia/PANDI)  serta ribuan warga Baduy.

Festival ini menampilkan pameran produk unggulan hasil kerajinan masyarakat Baduy, aneka kuliner khas, pentas seni dan budaya, Workshop Tata Kelola Desa, Workshop Kewirausahaan Berbasis Digital untuk UKM/IKM, Workshop Tata Kelola Wisata dan Ekonomi Kreatif melalui BUMDES, Pelayanan Sosial: Kesehatan, Donor Darah, Akte kelahiran, Pendaftaran Website Gratis bagi UKM/IKM, Sekolah, Ponpes, Desa,Ormas, Komunitas dll) serta pemecahan rekor menenun (melibatkan 500 orang penenun). Dalam kesempatan ini juga dilaksanakan peletakkan batu pertama Gerbang Wisata Budaya Baduy.

Prinsip “Gunung teu meunang dilebur, Lebak teu meunang dirusak” (Gunung tidak boleh dihancurkan, Lembah tidak boleh dirusak) merupakan komitmen masyarakat Baduy dalam menjaga dan mengelola sumberdaya alam/hutan. Prinsip ini wajib menjadi rujukan dan pembelajaran semua pihak dalam menata, mengatur, dan mengimplementasikan tatakelola/tata kuasa sumberdaya alam agar mampu memberikan manfaat berupa keterjagaan lingkungan serta peningkatan ekonomi bagi masyarakat.

Menko PMK dalam sambutannya memberikan apresiasi kepada Pemerintah Kab Lebak dan DPRD Kab Lebak yang sangat progresif dalam memberikan jaminan legalitas pengakuan dan perllindungan atas keberadaan seluruh masyarakat hukum adat, serta menjadi pelopor kebijakan daerah yang peduli terhadap masyarakat adat yang hidup di wilayah administrasi Kabupaten dan mampu menginspirasi kabupaten lain di Indonesia. Hak ulayat masyarakat Baduy telah diakui oleh Pemerintah Kab melalui Perda Lebak No. 13 Tahun 1990 tentang Pembinaan dan Pengembangan Lembaga Adat Masyarakat Baduy di Kabupaten Daerah Tingkat II Lebak dan Perda No. 32 tahun2001 tentang Perlindungan atas Hak Ulayat Baduy.

“Peran Pemerintah Daerah, lembaga masyarakat sipil serta masyarakat adat dalam pembangunan juga menjadi suatu bukti adanya pembangunan inklusif yang terbuka bagi semua golongan dan kalangan.  Inilah maksud dan esensi dari gotong royong yang dicita-citakan para leluhur bangsa.Pembangunan bergotong royong ini terus kita dorong dalam skala nasional dengan sebuah program yang bernama Program Peduli.” Demikian Menko PMK.

Dengan Festival ini, Menko PMK berharap dapat memperkuat, menjaga dan melindungi kelembagaan adat, budaya dan produk masyarakat Baduy agar tetap lestari; di samping mempromosikan hasil ekonomi kreatif meningkatkan kesejahteraan masyarakat Baduy sekaligus mempromosikan potensi wisata budaya Baduy dengan keunikan seni, tradisi dan kearifan lokal. Selanjutnya melalui festival ini akan terjalin pula komunikasi multipihak dalam rangka membangun Lebak Sejahtera melalui pertumbuhan ekonomi lokal yang mandiri, adil dan berkelanjutan

(sumber:Kedeputian VII Kemenko PMK).

Categories: