Oleh humas on March 05, 2018

Jakarta(04/03)--Staf Ahli Bidang Sustainable Development Goals Pasca 2015 Kemenko PMK, Ghafur Akbar Dharma Putra, mewakili Menteri Koordinator bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Puan Maharani, membuka secara resmi festival Bedhayan 2018 di Gedung Kesenian Jakarta, Minggu petang. Turut hadir dalam kesempatan ini Plt. Deputi Bidang Koordinasi Kebudayaan, Kemenko PMK, I Nyoman Shuida; Deputi Bidang Koordinasi Perlindungan Perempuan dan Anak, Kemenko PMK, Sujatmiko; dan Asisten Deputi Warisan Budaya, Kemenko PMK, Pamuji Lestari. 

Festival Bedhayan ini baru pertama kalinya diselenggarakan di dunia dan mendapatkan sambutan yang sangat luar biasa dari berbagai komunitas pecinta seni budaya dan sanggar seni. Dalam sambutannya yang di bacakan oleh Ghafur, Menko PMK, memberikan apresiasi yang sangat tinggi kepada panitia penyelenggara festival Bedhayan 2018 dan bagi seluruh elemen masyarakat atas terselenggaranya acara ini dengan baik.

'Bedhayan' berasal dari kata Bedhoyo, yaitu suatu bentuk tarian klasik Jawa yang merupakan mahakarya kebudayaan Indonesia. 'Bedhoyo' ditarikan secara gemulai dan meditatif serta mengandung makna spiritual. 'Bedhoyo' pada zaman dahulu hidup dan berkembang di kalangan keraton. Namun, saat ini banyak komunitas dan sanggar seni yang mempelajari dan mengembangkan tarian 'Bedhoyo' dengan tema dan cerita yang beragam.

Festival Bedhayan ini digelar dengan tujuan untuk membangun karakter bangsa dan melestarikan warisan budaya Indonesia. "Festival Bedhayan tahun 2018 merupakan salah satu upaya dalam membangun kepribadian bangsa dalam kebudayaan. Festival Bedhayan yang menampilkan keberagaman tarian mengandung oesan moral, dan nilai nilai luhur budaya bangsa. Kebudayaan bangsa Indonesia bersumber dari nilai nilai luhur budaya tersebut," kata Ghafur dalam membacakan sambutan Menko PMK. 

Lebih lanjut, Kemenko PMK juga mendukung penuh atas diselenggarakan acara festival Bedhayan 2018. Hal ini selaras dengan tujuan acara yaitu untuk melestarikan dan mengembangkan kesenian tradisional, mempopulerkan karya agung bangsa Indonesia, menanamkan nilai-nilai luhur bangsa Indonesia, membangun karakter bangsa, dan melestarikan warisan budaya Indonesia. 

Pendiri Museum Rekor Dunia Indonesia, Jaya Suprana, mengatakan bahwa tari Bedhayan merupakan warisan kebudayaan nusantara yang memiliki makna tersendiri dan tiada duanya di dunia ini. Acara yang diselenggarakan oleh Jaya Suprana School of Performing Art dan yayasan Swargaloka ini menampilkan 13 peserta. Seluruh penampilan peserta akan diamati oleh para pakar tari 'Bedhayan.' Para peserta juga mendapatkan sertifikat dari Menko PMK dan juga apresiasi (rapor) dari pengamat seni. Dalam acara ini juga dianugerahkan Piagam penghargaan Museum Rekor-Dunia Indonesia (MURI) kepada Kemenko PMK sebagai pendukung penyelenggara Festival Bedhayan Pertama di Dunia.

Acara ini juga dihadiri oleh Duta Besar Kuba, Duta Besar Argentina, Duta Besar Korea Utara, Duta Besar Korea Selatan, para pengamat seni, GRA Wandansari Koes Murtiyah dari Karaton Kasunanan Surakarta; KP Sulistyo Tirto Kusumo, dari Taman Mini Indonesia Indah; serta Wahyu Santosa Prabowo, S. Kar, dari Institut Seni Indonesia Surakarta; para Budayawan, serta undangan lainnya. (fin)

Categories: