Oleh humas on November 08, 2016

Jakarta (7/11)--- Keasdepan Pemberdayaan Disabilitas dan Lansia pada Kedeputian bidang Koordinasi Penanggulangan Kemiskinan dan Perlindungan Sosial Kemenko PMK,  menyelenggarakan diskusi dalam rangka perumusan Kebijakan Pemberdayaan Kelembagaan Kelanjutusiaan (Older People’s  Association). Dalam diskusi hadir sebagai narasumber, dari Pusat Pengkajian Daerah dan Kelembagaan (PPKDK) UNS Surakarta, Tuhana dan Izza Mafruhah; serta Pakar dan Pemerhati Kelanjutusiaan dari Yayasan Swastisvarna, Adhi Santika.

Sejalan dengan thema diskusi, Adhi Santika, menggarisbawahi empat kata kunci yang perlu menjadi fokus bagi proses pendalaman lebih lanjut. Keempat kata kunci dimaksud adalah kebijakan, pemberdayaan, kelembagaan dan kelanjutusiaan.  

“Kebijakan mengenai lanjut usia, fokus perhatian kita tujukan pada upaya untuk memotret berbagai regulasi yang telah ada saat ini, prototype kebijakan pemerintah dalam penanganan Lansia, isu dan tantangan dalam proses implementasinya,” papar Adhi lagi.
 
Demikian juga berbicara mengenai pemberdayaan, menurut Adhi, harus ada movement (gerakan) yang menggambarkan perkembangan dari kondisi awal ke arah kondisi yang diharapkan. Kelembagaan tidak selalu dipersepsikan berbentuk organisasi tapi dapat berupa sistem nilai.

Dalam kontek kelembagaan lanjut usia kita juga dapat melihat jenis dan misinya. Mengacu pada jenis dan misinya, paling tidak ada tiga kelompok Kelembagaan Kelanjutusiaan (Older People’s  Association/OPA)di Indonesia, yakni yang sifatnya koordinatif (misal Komnas Lansia, Komda Lansia dan Lembaga Lanjut Usia Indonesia; organisasi profesi (misal persatuan Gerontologist) dan pelayanan (misalnya Lembaga Kesejahteraan Sosial Lansia). Sedangkan kata kunci terakhir mengenai Kelanjutusiaan, kita tidak semata-mata hanya berbicara mengenai lanjut usia tetapi harus memperhatikan juga pra lanjut usia.

Sekaitan dengan hal ini kelompok sasarannya juga harus jelas, apakah OPA ini akan menyasar Lansia sehat dan produktif, Lansia sehat tapi tidak produktif atau Lansia tidak sehat dan tidak produktif. Demikian juga dengan lingkup kegiatan OPA. Merujuk pada Global Age Watch Index (GAWI), apakah OPA akan bergerak pada domain: peningkatan jaminan pendapatan (income security), peningkatan status kesehatan (health status) dalam mendukung harapan hidup/harapan hidup sehat di usia 60 tahun, memelihara kapasitas Lansia agar tetap dapat bekerja (capability) atau memanfaatkan koneksi sosial yang dimiliki Lansia sebagai potensi(enabling environment). Prinsip OPA, apapun kegiatannya harus berifat partisipatif dan inklusi.

(sumber: Keasdepan Pemberdayaan Disabilitas dan Lansia pada Kedeputian bidang Koordinasi Penanggulangan Kemiskinan dan Perlindungan Sosial Kemenko PMK)