Oleh humas on October 31, 2016

Jakarta (27/10)--- Kedeputian bidang Koordinasi Pennaggulangan Kemiskinan dan Perlindungan Sosial Kemenko PMK melalui Keasdepan bidang Koordinasi Pemberdayaan Disabilitas dan Lansia, baru-baru ini menggelar Forum Group Discussion (FGD) yang berthema “Program Kebijakan Pengembangan Old People Association (OPA) di Indonesia.” FGD yang berlangsung di Kota Solo, Jawa Tengah ini terselenggara atas kerja sama Kemenko PMK dengan LPPM Universitas Sebelas Maret Surakarta. Acara dibuka secara resmi oleh Ketua LPPM UNS, Tuhana, dan dihadiri sekitar 40 peserta yang merupakan perwakilan organisasi Lansia, Komda Lansia, serta jajaran SKPD se-Kota Solo.

FGD ini digelar dengan tujuan untuk menganalisis prioritas kebutuhan dan dukungan dalam pengembangan kelembagaan OPA; menganalisis peran stake holder dalam pengembangan OPA di Indonesia; dan menyusun model pengembangan kelembagaan dalam pengembangan OPA di Indonesia.

OPA merupakan suatu wadah assosiasi penanganan Lansia melalui mekanisme keterlibatan partisipasi Lansia dalam masyarakat, saling memberikan dukungan satu sama lain, memberikan kontribusi pada masyarakat dan meningkatkan kualitas hidup mereka. Semua kegiatan mereka dikelola dan didanai secara swadaya untuk mengatasi kebutuhan dan keprihatinan dari anggota mereka atas dasar solidaritas masyarakat dan partisipasi sukarela. OPA sebagai organisasi bersifat independen dan diharapkan terus berkembang, bermartabat, aman, dan aktif. OPA memastikan para anggotanya bahwa orang yang lebih tua tetap dapat memberikan kontribusi kepada masyarakat dan bahwa mereka harus menikmati hak mereka untuk kesehatan, pelayanan sosial, dan keamanan ekonomi serta fisik.

Nilai-nilai yang dipahami dan disepakati dalam OPA adalah usia yang dianalogikan dengan pengalaman membantu wanita yang lebih tua dan laki-laki di tengah pekerjaan. OPA memandu jenis program yang dijalankan melalui pengembangan advokasi dan cara berkomunikasi. Nilai-nilai yang disepakati itu meliputi mendukung, Optimis, Ahli, dan berkomitmen.

OPA sejauh ini melakukan kemitraan dengan organisasi serupa; menyediakan layanan yang tidak disediakan oleh pemerintah; menanggapi keadaan darurat dengan cepat dan efektif; mengembangkan cara-cara untuk meningkatkan kehidupan orang  tua dengan memantau berbagai program yang dijalankan dan memberikan masukan kepada para pembuat kebijakan untuk mengatasi masalah penuaan.

Tujuan dan penanganan utama pada OPA meliputi layanankesehatan; perawatan di rumah; hidup sehat dan aktif; aktivitas sosial dan budaya; partisipasi masyarakat dan pemerintah; kemampuan menolong diri sendiri; partisipasi perempuan; halasasi; respon terhadap kedaruratan, dan pengurangan risiko bencana alam; kesejahteraan dan keamanan pendapatan. (sumber: Keasdepan bidang Koordinasi Pemberdayaan Disabilitas dan Lansia pada Kedeputian II Kemenko PMK)