Oleh humas on March 16, 2016

Jakarta (16/03)--- Deputi Kemenko PMK bidang Koordinasi Penanggulangan Kemiskinan dan Perlindungan Sosial, TB Achmad Choesni (berdiri) memberikan pengantar dalam kesempatan Diskusi Kelompok Terarah (FGD) mengenai Potensi Bengkel Kerja (Sheltered Workshop) menuju Perusahaan Penyandang Disabilitas (Disability Enterprise) di Jakarta, pagi ini.

"Tindakan memfasilitasi para penyandang disabilitas ini (untuk masuk ke dunia kerja---red) harus terus dilakukan secara berkelanjutan. Jangan lagi anggap mereka dengan penilaian rasa kasihan tetapi berikan kesempatan kerja yang seluas-luasnya," imbau Choesni.

Data SUSENAS BPS tahun 2012 mencatat, jumlah penyandang disabilitas tercatat sebanyak 6.008, 661 jiwa, sementara fakta di lapangan menunjukkan  antara kesempatan kerja dengan besarnya jumlah angkatan kerja mengalami kesenjangan, belum lagi dengan stigma masyarakat terhadap penyandang disabilitas. Begitu pula dengan kuota 1 persen bagi penyandang disabilitas di lapangan kerja belum juga terpenuhi karena ketiadaan sanksi bagi para pelaku usaha yang enggan mempekerjakan mereka.

Pemerintahan Jokowi - JK pada Desember 2015 lalu telah berkomitmen untuk membangun pabrik yang khusus mempekerjakan penyandang disabilitas. Namun, upaya pelatihan keterampilan kerja seperti yang terdapat di berbagai bengkel kerja hingga kini masih belum dikembangkan secara optimal. Jika sudah berkembang, para penyandang disabilitas dinilai sudah mampu untuk terjun ke dalam dunia kerja dan mereka diharapkan dapat mencapai kemandirian ekonomi. Negara di dunia yang sudah sukses menjalankan bengkel kerja untuk para penyandang disabilitas sejauh ini antara lain Jerman, Thailand, dan Filipina. (IN/ foto: why/humas)