Oleh humasnew on August 28, 2018

Jayapura (28/08)-- Pemerintah sangat memberikan perhatian yang luar biasa pada sektor kebudayaan. Wujud perhatian itu tertuang dalam nawa cita dan Tri sakti yakni pembangunan dilaksanakan dengan berkepribadian dalam kebudayaan.

Hal ini diungkapkan Asisten Deputi Warisan Budaya, Kementerian Koordinator pembangunan manusia dan kebudayaan (Kemenko PMK), Pamudji Lestari dalam acara Rakor Pelestarian dan Pengelolaan Noken sebagai Warisan Takbenda Dunia dan Taman Nasional Lorenz sebagai Warisan Alam Dunia yang dilaksanakan di hotel Grand Abe, Jayapura.

"Kami di Kemenko PMK mewadahi warisan budaya dan warisan alam. Kami telah mengusulkan kepada Menko PMK untuk menambah anggota kelompok kerja menjadi 24 kementerian/lembaga dari semula 12 kementerian/lembaga mengingat cakupannya sangat luas. Saat ini masih dalam tahap revisi," ujarnya.

Dilihat dari dimensi kebudayaan yang begitu besar, tambahnya, pihaknya juga mengusulkan kepada Bappenas agar di dalam RPJPN 2019-2024, kebudayaan menjadi agenda prioritas dalam pembangunan nasional.

"Seperti yang kita ketahui bahwa saat ini kebudayaan belum masuk dalam prioritas pembangunan nasional," jelasnya.

Lebih lanjut, Pamudji Lestari menyampaikan khusus untuk Papua yang mempunyai dua warisan dunia yakni taman nasional Lorenz dan warisan budaya takbenda, Noken, keduanya harus dikelolah dengan baik dan dilestarikan. Hal ini butuh komitmen pemerintah pusat lintas kementerian dan seluruh stage holder. Komitmen ini sangat penting agar warisan budaya takbenda ini bisa jadi aset dan memberikan kesejahteraan bagi masyarakat. Hal ini sesuai dengan UU No 5 tahun 2017, ada aspek pemberdayaan, pemanfaatan dan perlindungan.

"Kita tidak ingin warisan dunia hanya jadi slogan dan jargon semata. Tapi bisa memberdayakan, dimanfaatkan bagi kemakmuran masyarakat. Ini dipemerintah pusat sudah semangat 45 jadi yang di daerah jangan loyo," tegasnya.

komitmen bersama

Sementara itu, Kepala Biro Kesra dan Kemasyarakatan, Pemprov Papua, Naftali Yogi, dalam sambutannya menyampaikan rasa terimakasih atas perhatian pemerintah pusat yang telah menjadikan Noken dan Taman Nasional Louren menjadi warisan dunia. Kedua aset yang strategis bagi daerah dan jati diri bangsa ini diyakini mampu menjadi daya tarik ekonomi bagi masyarakat.

"Kami berharap tercapainya dan terwujudnya komitmen bersama antarpemangku kepentingannya dalam rakor ini, untuk melindungi kedua aset yang ada itu," ujar Naftali.

Beberapa kendala untuk melindungi kedua aset itu ke depan, tambahnya, dipengaruhi adanya jalan yang melintasi Taman Nasional Lorenz, perburuan liar satwa dan kematian hutan. 

"Buka jalan, orang pasti punya kepentingan ke sana. Di sana keindahannya luar biasa. Ini harus dijaga. Untuk itu peraturan yang tegas harus ada," tegasnya.

Sedangkan untuk Noken kendala yang ada yakni ketersediaan bahan yang masih terbatas dan persaingan dengan produk lain. Sehingga pada gilirannya kurang memberikan manfaat bagi kesejahteraan masyarakat.

"Kalo depan, bagaimana mengupayakan ketersediaan bahan. Para pemda didorong untuk membudidayakan pohon-pohonnya karena semakin susah. Terlebih untuk bahan yang terbuat dari anggrek," harapnya.

Di sampingnya itu, tambahnya, Noken sebagai kreasi rakyat yang mengambil nilai-nilai religius. Di dalamnya terkandung sejumlah makna. Namun saat ini nilai tadi sudah semakin tenggelam. Salah satunya, karena benang-benang yang dipakai banyak bukan lagi yang asli melainkan produk pabrik.

Kegiatan rakor kali ini merupakan kelanjutan dari rakor pada 15 Desember 2017 lalu yang dilaksanakan di Jayapura.Tujuan rakor ini untuk mengevaluasi dan monitoring akan rencana aksi yang dibuat tahun 2017 tersebut, sehingga dapat mengetahui sejauh mana starategi yang telah dilaksanakan oleh kementerian lembaga yang terkait khususnya kemendiknas, KemenLHK, KemenPU PR dan pemerintah daerah Papua. Narasumber  yang dihadirkan dalam rakor kali ini antara lain Pamudji Lestari, Asdep Deputi Warisan Budaya, Kemenko PMK, Najamudin Ramli, Direktur Warisan dan Diplomasi Budaya, Kemendikbud,  Kuswandono, Badan Pengembangan Infrastruktur Wilayah, KemenPUPera. Selain itu, hadir pula Kepala Balai Besar BKSDA, Papua, Timbul batubara, Kepala Balai Besar Taman Nasional  Lorenz, Ache.A. Sokoy dan Sonny Muchlison, praktisi kebudayaan.

Categories: