Oleh humas on September 28, 2018

Jakarta (28/09) – Deputi Bidang Koordinasi Perlindungan Perempuan dan Anak Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Kemenko PMK) menggelar Seminar Hasil Pilot Project Pembentukan Keluarga Berkarakter 

Melalui GenRe di Provinsi DKI Jakarta di hotel Santikan, Jakarta, Jumat (28/09). Nara Sumber yang dihadirka yakni para perwakilan Duta Genre DKI Jakarta dari 5 kota administrasi yang ada. Mereka  ini telah menjadi fasilitator dalam pelaksanaan pilot project pembentukan keluarga berkarakter tersebut.

Asisten Deputi Ketahanan dan Kesejahteraan Keluarga Kemenko PMK, Wahyuni Tri Indarty saat meberikan sambutan pada pembukaan menyampaikan tujuan kegiatan ini yaitu pertama, tersosialisasikannya Program Revolusi Mental, khususnya mengenai Indikator Gerakan Indonesia Bersih (GIB), Gerakan Indonesia Tertib (GIT) dan Gerakan Indonesia Mandiri (GIMa) kepada Duta Generasi  Berencana (GenRe)  Perwakilan DKI Jakarta. Kedua, tersosialisasikannya Indikator Ketiga Gerakan Revolusi Mental kepada Remaja di wilayah Provinsi DKI Jakarta, dan Duta GenRe pada khususnya.

Provinsi DKI Jakarta dijadikan sebagai pilot project Pembentukan Keluarga Berkarakter Melalui GenRe. Kegiatan pembentukan keluarga berkarakter juga dwujudkan melalui Kemah Duta Genre dan  telah dilaksanakan di berbagai daerah. Kemah Duta GenRe di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung diikuti  102 duta GenRe dari 34 Provinsi di Indonesia dan 500 remaja  dari Provinsi Kep. Babel pada  7-11 Mei 2018.  Dilanjutkan pada 3 – 7 Juli 2018 di Manado, Provinsi Sulawesi Utara, kepada 500 duta GenRe  dari 34 Provinsi di Indonesia dan 300 remaja  dari Provinsi Sulut dan Provinsi Gorontalo. Selanjutnya Kemah Duta GenRe dilaksanakan di Jatim (Surabaya), Kaltim (Samarinda dan Berau), Riau dan Sultra.

Melalui kegiatan tersebut diharapkan para remaja memahami dengan baik mengenai substansi Gerakan Revolusi Mental yang komprehensif melalui keterlibatan remaja secara bermakna. Para remaja siap menjadi agen perubahan dan penggerak revolusi mental di dalam keluarga dan masyarakat. Selain itu juga mampu melahirkan kreasi gagasan remaja dan media KIE yang menarik sebagai upaya promotif Gerakan Revolusi Mental dari, oleh, dan untuk remaja bagi keluarga serta  terrciptanya gerakan revolusi mental yang massive dan berkelanjutan.

Dari beberapa presentasi yang dipaparkan oleh para narasumber  terungkap beberapa hambatan dominan yang ada dalam pelaksanaan pilot project  di DKI Jakarta, yakni jumlah peserta melebihi kapasitas fasilitator dan waktu pelaksanaan terlalu singkat. Untuk mengatasi hambatan tersebut direkomendasikan  adanya penambahan Fasilitator sehingga para remaja dapat bertanya secara cepat dengan fasil yang ada. Selain itu, harus adanya kesepakatan management waktu yang tepat sebelum kegiatan ini dilaksanakan.

Categories: