Oleh humasnew on November 19, 2018

Jakarta (19/11)--- Masih dalam rangka membangun kemandirian masyarakat, peran zakat tentu tidak dapat dipisahkan. Setelah ditetapkan proyek percontohannya di sejumlah titik di tanah air, zakat terbukti mampu mengangkat kehidupan umat dan sekitarnya menjadi lebih baik, bahkan sejahtera. Kementerian Agama, melalui Program Kampung Zakat terus berusaha mewujudkan pemerataan pembangunan bahkan hingga wilayah paling terpencil, termasuk membangun peningkatan kualitas hidup manusia lewat aneka kegiatan pemberdayaan masyarakat. Program Kampung Zakat sendiri sudah dimulai pada tahun 2018 hingga 2019 dan Kemenko PMK terus mengawal koordinasinya demi kelancaran program yang melibatkan pula berbagai organisasi pengelolaan zakat di tanah air ini. Rapat Koordinasi tentang Program Kampung Zakat digelar pada Senin Siang di gedung Kantor Kemenko PMK Jakarta dan dipimpin langsung oleh Asisten Deputi Pemberdayaan dan Kerukunan Umat Beragama, Aris Darmansyah. Rakor turut dihadiri oleh perwakilan dari Kementerian Agama, BAZNAS, LAZIS, BAZNAS DKI Jakarta, dan FOZ.

Aris dalam arahannya menegaskan bahwa Program Kampung Zakat dapat menjadi “trigger” agar masyarakat giat membayar zakat. Dengan begitu, lanjutnya, zakat dapat membantu perekonomian masyarakat di daerah. “Maka untuk keberlanjutannya, diperlukan sinergi antara Kemenag dengan lembaga zakat mengingat target yang ingin dicapai juga harus terpenuhi,” kata Aris lagi. Dia menambahkan, untuk memantapkan program ini ke depan diperlukan kajian mendalam terutama tentang potensi yang ada di masyarakat agar program ini juga tepat sasaran. Demikian pula dengan pelibatan perbankan terutama milik daerah agar dapat saling bersinergi lalu semakin memudahkan masyarakat mengakses layanan keuangan.

Berdasarkan paparan dalam rakor, Program Kampung Zakat diketahui saat ini tengah dikembangkan sebagai proyek percontohan selama dua tahun selama 2018 hingga 2019. Program ini diketahui pula akan memberikan berbagai fasilitas kemudahan bagi masyarakat yang berada di bawah garis kemiskinan untuk memperoleh hak dasarnya dan mengangkat harkat dan martabat umat yang memiliki keimanan dan ketaqwaan kepada Allah SWT. Program Kampung Zakat sejatinya adalah program pembinaan kepada masyarakat di bidang agama, kesehatan, wirausaha, dan mental dalam membentuk karakter masyarakat yang mandiri dan kreatif. Dalam perjalanannya, Kampung Zakat menjalankan aksi berbagi peran dari para stakeholders zakat dalam meningkatkan perekonomian mustahik (pendidikan, kesehatan, kesejahteraan, kebutuhan sembako tercukupi, pelayanan dan perlindungan sosial, pembinaan mental, dan membuka lapangan pekerjaan). Kampung Zakat memberikan pembekalan melalui program pelatihan, pendampingan, penyuluhan, dan pembinaan secara berkelanjutan, sehingga mustahik yang terbantu dapat teratasi permasalahannya dan memberikan fasilitas terintegrasi bagi masyarakat miskin (mustahik) di satu kampung/desa di tiap provinsi dengan memberdayakan dana ZIS seperti bantuan pendidikan, kesehatan, kesejahteraan, fasilitas dan sarana umum.

Sejauh ini, Program Kampun Zakat dalam bidang pendidikan misalnya telah berhasil membuat tidak ada mustahik yang anaknya putus sekolah hingga 100 persen; terlaksananya program persamaan pendidikan; mustahik yang berprestasi di dunia pendidikan akan ditingkatkan atau mendapatkan biaya pendidikan hingga perguruan tinggi; dan Tidak ada mustahik yang buta huruf. Sementara di bidang kesehatan, Kampung Zakat berhasil Paling sedikitnya 20 KK terbantu dalam program Kampung Zakat di satu lokasi/desa; Adanya sinergi lintas sektoral dari jumlah lembaga yang terbentuk hingga 100 persen; dan telah menjangkau wilayah daerah tertinggal.

Program Kampung Zakat di tahun 2018 ini telah direalisasikan di tujuh titik yang tersebar di sejumlah wilayah antara lain Dusun Longseran Timur (Kab. Lombok Barat, NTB); Desa Ciladaeun (Kab. Lebak, Banten); Desa Jenilu (Kab. Belu, NTT); Desa Talaga Jaya (Kab. Halmahera Timur, Maluku Utara); Desa Sidomulyo (Kab. Seluma, Bengkulu); Desa Harapan Jaya (Kab. Raja Ampat, Papua Barat); dan Desa Sulung (Kab. Sambas, Kalbar). Aris dalam arahannya juga menyebutkan bahwa di masa mendatang, Program Kampung Zakat dapat menyertakan program wakaf umat yang nyatanya berpotensi besar dalam pemberdayaan ekonomi umat. Maka, perlu adanya suatu Nota Kesepahaman yang melibatkan Kemenko PMK, Kemenag, Lembaga Zakat, pengelola wakaf, dan juga masyarakat setempat. “Jika sudah mantap, program ini perlu menetapkan indeks keberhasilannya yang didikung juga dengan kelengkapan data dan faktor pendukungnya,” kata Aris lagi. (*)

Categories: