Oleh humas on October 23, 2018

Jakarta (23/10)--- Sebagai kelanjutan dari rencana dimulainya pembuatan website resmi tentang Bimbingan Pra Nikah seperti yang sudah dibahas dalam rapat koordinasi sebelumnya pada Agustus 2018 lalu, plt. Deputi bidang Koordinasi Perlindungan Perempuan dan Anak, Kemenko PMK, Ghafur Dharmaputra, kembali memimpin rapat lanjutan dengan bahasan serupa Selasa pagi di Jakarta. Pada rakor Agustus lalu, disepakati bahwa website yang dibuat itu merupakan hasil sinkronisasi muatan dan materi dari K/L, lalu diperkaya dengan artikel - artikel yang dapat digunakan oleh masyarakat sebagai bahan rujukan untuk pasangan calon pengantin di masa pra nikah dan masa nikah. Untuk melengkapinya, konten yang ada juga tidak hanya bahasan menurut agama Islam tetapi juga lintas agama. Selain itu, konten website akan diisi dengan konten multimedia seperti infografis, miniclips, video, film, dan lainnya sebagai penyeimbang dari konten artikel yang ada sehingga lebih menarik.

Sejauh ini, Tim Kecil yang merupakan perintis sudah menyelesaikan infrastruktur website sebanyak 75 persen. Dalam rakor diketahui bahwa website perintis ini menemukan sejumlah kendala terutama untuk konten lintas agama. “Kami butuh kesamaan persepsi dulu dari agama-agama yang ada. Jika sudah sama, pengembangan ke tahap selanjutnya semoga tidak ada kesulitan lagi,” papar Kemenag selaku Pimpinan Tim Kecil Perintis Website Bimbingan Pra Nikah ini.

Website Bimbingan Pra Nikah yang diketahui akan diluncurkan pada akhir 2018 ini akan memuat sejumlah rubrikasi mulai dari konseling, keterampilan, dan pengetahuan, bahkan daftar serta alamat lengkap Kantor Urusan Agama dan Catatan Sipil se-Indonesia. Para pengunjung website nantinya diharapkan dapat memetik banyak manfaat setelah berselancar dan membaca aneka konten, di samping juga ada pemutaran video singkat atau bahkan karikatur. Yang menarik, website memuat satu rubrik bernama ‘Inspirasi Baru’ yang menurut Pengembangnya, Alissa Wahid, adalah upaya memperluas wawasan masyarakat tentang stigma, pandangan budaya, atau tabu yang berlaku di tengah masyarakat kita. “Seperti pernikahan di bawah umur atau anak dipaksa menikah hanya untuk alasan menghindari zina padahal sesungguhnya bukan hanya itu tujuan menikah. Menikah adalah soal kesiapan baik mental, finansial, dan fisik,” tambah Alissa dalam paparannya. “kami juga memuat konten konsultasi dari para penyuluh dan ahli. Website ini akan sangat bermanfaat bagi mereka yang berjuang membentuk keluarga sakinah dan juga sangat membantu program ketahanan keluarga milik pemerintah.” (*)

Categories: