Oleh humasnew on December 13, 2017

Makassar (13/12) – Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Kemenko PMK) melaksanakan kegiatan Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) Pelestarian dan Pengelolaan Warisan Budaya Regional Tengah  yang diselenggarakan di Makassar, Sulawesi Selatan (Sulsel), Rabu (13/12). Rakornas kali ini dibuka oleh Wakil Gubernur Sulsel, Agus Arifin Nu’man dan dihadiri oleh SKPD, Kepala BPCB, Kepala Museum, perwakilan dari perguruan tinggi, dan komunitas masyarakat.

Haris Djayadi, Kepala Bidang Cagar Budaya dan Permuseuman Kemenko PMK sekaligus Ketua Panitia Rakornas dalam laporannya menyampaikan bahwa tujuan dilaksanakan rakor ini adalah sebagai sarana konsolidasi serta kaji ulang berbagai kebijakan sehingga dapat dirumuskan suatu keluaran berupa kebijakan dan langkah-langkah strategis dalam upaya optimalisasi pelestarian budaya.

“Konsolidasi dan kaji ulang ini penting agar kebijakan yang akan dibuat nantinya tidak sia-sia, dapat berguna serta memiliki efek ganda yang bermanfaat bagi pelestarian budaya di daerah. Selain itu kami  berharap terwujudnya koordinasi dan sinergitas antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah dalam pengelolaan warisan budaya,” harap Haris.

Plt. Deputi Bidang Koordinasi Kebudayaan, Kemenko PMK dalam pidato sambutannya yang dibacakan oleh Asisten Deputi (Asdep) Warisan Budaya, Kemenko PMK, Pamuji Lestari menyampaikan bahwa Indonesia memiliki warisan budaya yang sangat banyak dan tersebar dipunjuru tanah air termasuk Sulawesi Selatan.

“Warisan budaya yang termasuk didalamnya cagar budaya harus di jaga dan dilestarikan sebab itu merupakan identitas bangsa. Cagar budaya merupakan bukti nyata perjalanan hidup sebuah bangsa serta sebagai bukti karya luhur nenek moyang kita yang mencerminkan kekayaan dan keanekaragaman budaya kita. Cagar budaya juga  penting artinya bagi pembelajaran generasi penerus bangsa,” terang Pamuji.    

Menurut Pamuji, cagar budaya yang dikelola secara baik dapat berpotensi menjadi destinasi pariwisata yang sangat menguntungkan serta dapat mendukung peningkatan kesejahteraan rakyat terutama bagi masyarakat yang berada di dekat lokasi cagar budaya. Wisata cagar budaya dapat juga menjadi wahan bagi masyarakat untuk meningkatkan rasa cinta tanah air, menjaga kelestarian lingkungan serta menjaga nilai-nilai tradis sosial dan buaya. 

Wagub Sulsel, Agus Arifin Nu,mang saat menyampaikan pidato pembukaannya mengatakan bahwa penyelenggaraan rakornas di Makassar ini sangat strategis dan penting karena di wilayah Sulawesi Selatan ini banyak sekali situs-situs cagar budaya yang perlu ditelusuri sejarahnya. 

“Di sini ada situs Leang Leang yang merupakan goa purba. Di goa ini banyak sekali lukisan-lukisan purbakala sebagai jejak yang ditinggalkan nenek moyang. Ada juga Bantimurung yang di sebut sebagai kerajaan kupu-kupu terbesar di dunia, ada port Amsterdam sebagai benteng peninggalan Belanda. Belum lagi berbagai tradisi serta perkuburan kuno di Tanatoraja yang sangat mistis dan eksotis dan masih banyak lagi potensi cagar budaya yang ada di Sulawesi Selatan ini,”terang Wagub Nu’mang.    

Sementara itu, Asdep Pamuji Lestari saat menjadi narasumber rakornas memaparkan peran dan fungsi Kemenko PMK dalam pelestarian dan pengelolaan warisan budaya. Menurutnya, Indonesia memiliki 64.844 situs purbakala dan baru 749 atau sekitar 1,16% telah ditetapkan sebagai cagar budaya serta baru 16 warisan budaya yang diakui UNESCO sebagai warisan dunia dan 18 lainnya masih dalam tentative list.

“Atas kondisi tersebut, pemerintah sejak tahun 2009 melalui SK Menko Kesra Nomor 64 tahun 2013 telah membentuk Kelompok Kerja Warisan Dunia lalu direvisi melalui SK Menko PMK Nomor 20/2016 tentang Tim Koordinasi Pelestarian Budaya dan Alam Indonesia selanjutnya disebut Tim Koordinasi Warisan Indonesia,” papar Pamuji.

Menurut Pamuji, masih banyaknya situs warisan budaya yang belum ditetapkan sebagai cagar budaya karena invetarisasi dan penetapan objek/situs/kawasan/ yang tergolong sebagai warisan nasional dan daerah belum dilakukan secara optimal apalagi perawatan dan pelestarian sumberdaya budaya dan alam masih terbatas, umumnya masih terkonsentrasi di kawasan perkotaan.

“Pengelolaan sumberdaya budaya dan alam tersebut masih dilakukan sesuai dengan kepentingan dan kebijakan K/L dan daerah masing-masing dan belum dilakukan secara terintegrasi antara pusat dan daerah serta dengan stakeholders yang ada di sekitar kawasan/objek. Dukungan program dan anggaran untuk pengelolaan warisan budaya dan alam masih terbatas atau minim,”tambah Pamuji.    

Senada dengan Pamuji, Prof. Andi Ima kesuma, Guru Besar Universitas Hasanaudin mengatakan bahwa permasalahan utama pelestarian kawasan cagar budaya adalah penetapan kawasan cagar budaya yang belum jelas, perencanaan  pengelolaan kawasan yang belum tuntas, penetapan zonasi yang kurang melindungi keseluruhan aset kawasan, dan konflik pemanfaatn dan pengelolaan.

Terkait persoalan tersebut, Menurut Prof. Andi perlu strategi pelestarian kawasan cagar budaya diantaranya; Penetapan Status kawasan cagar budaya secara efektif dan efisien; penetapan sistem zonasi yang melindungi semua komponen cagar budaya; perencanaan pelestarian secara terintegrasi dan berkesinambungan; penetapan bentuk pengelolaan sesuai karakteristik kawasan; serta penetapan fungsi unggulan dan pengembangan kerjasama antar kawasan. 

“Pada akhirnya tujuan pelestarian warisan budaya adalah untuk melestarikan budaya bangsa dan umat manusia, meningkatkan harkat dan martabat bangsa, memperkuat kepribadian bangsa, meningkatkan kesejahteraan rakyat, serta mempromosikan warisan budaya bangsa kepada masyarakat internasional,”jelas Prof. Andi.

Rakornas kali ini diformat dengan diskusi panel yang terdiri dari dua sesion. Sesion pertama menampilkan pemicara Pamuji Lestari dari Kemenko PMK; Prof. Andi Ima Kesuma dari Universitas Hasanuddin; dan Laode Muhammad Aksan, kepala BPCB Sulsel dengan moderator Wahluyono Bendahar Asosiasi Museum Indonesia (AMI). Sesion Kedua menghadirkan pembicara Prof. Hamka Arifin dariUniversitas Hasanuddin dan Asep Kambali pendiri Komunitas Historia Indonesia. (DAM)

Categories: