Oleh humas2 on November 30, 2016

Tanggamus, 30 Nopember – Staf Ahli Menteri Bidang Usaha Mikro Kecil dan Menengah dan Ekonomi Kreatif dan Ketenagakerjaan, Kemenko PMK, Sidqy Leggo Pangesthi Suyitno, memberikan arahan sekaligus membuka secara resmi kegiatan Workshop Revitaslisasi Pengembangan dan Pelestarian Kopi Lampung Berbasis Pemberdayaan Masyarakat, di Kabupaten Tanggamus, Propinsi Lampung, Senin pagi (28/12).

Dalam arahannya Sidqy menyampaikan bahwa Masyarakat perdesaan telah berabad-abad mengembang-kan cara atau teknik bertani, sesuai jenis tanaman, karakter lokasi, tanah, dan iklim setempat, sehingga berkelanjutan menopang kesejahteraan masyarakatnya hingga saat ini, terutama pembudidayaan kopi.

Menurut Sidqy, dalam proses pembudidayaan kopi memerlukan proses identifikasi nilai-nilai dan substansi rantai kegiatan mulai dari hulu,pengolahan dan hilirisasi yang mencakup kekuatan dan kelemahan internal masyarakat setempat, serta tantangan dan kesempatan lingkungan eksternal yang bersifat local, regional, nasional dan global.

“Oleh karena itu tujuan dari pada Workshop ini adalah   melakukan kooordinasi, sinkronisasi dan pengendalian program/ kegiatan pemberdayaan masyarakat berbasis sosial-budaya setempat (kearifan lokal); memberikan pemahaman dan kesamaan persepsi bagi para penyelenggara pemberdayaan masyarakat   serta memberikan arahan koordinasi, sinkronisasi dan pengendalian bagi lembaga-lembaga yang terkait pemberdayaan  masyarakat berbasis sosial-budaya agar terjadi kerjasama dan sinergi antar program/kegiatan,”terang Sidqy.

Menurut Sidqy, kopi merupakan salah satu produk budaya pertanian, dimana dalam sejarahnya produk ini sudah ada dan berkembang di negara kita, dan sampai saat ini kopi digemari oleh masyarakat Indonesia dan sampai ke Luar Negeri , kopi yang dihasilkan dari Indonesia menjadi unggulan di Internasional baik kopi Arabika dan Kopi Robusta.

Sidqy juga mengungkapkan bahwa Indonesia saat ini menjadi penghasil kopi terbesar ke-empat setelah Brazil, Kolombia, dan Vietnam. Produksi kopi Indonesia pada tahun 2014 mencapai 685 ribu ton (80 persen jenis Robusta) atau sekitar 6 persen dari produksi dunia yang sebesar 8,6 juta ton.

“Inilah dasarnya mengapa Kemenko PMK mengambil kopi dalam rangka pengembangan dan pelestariannya, termasuk 7 dari 12 specialty coffe dunia yang dimiliki oleh Indonesia,  seperti kopi Gayo, kopi Tambora, kopi Java Ijen, kopi Kahayya, kopi Toraja, dan kopi Wamena,”kata Sidqy.

Sementara itu menurut Sidqy,  kopi Lampung sejak jaman dahulu sudah terkenal dan Lampung telah ditetapkan sebagai Jendela Kopi Nasional oleh Presiden RI ke 5, namun tidak lagi terdengar produknya. Untuk itulah Kemenko PMK melalui fungsinya melakukan koordinasi dan sinergi program dengan K/L terkait untuk mengangkat kembali Kopi Lampung.

Warisan Budaya.

Sementara itu, Asisten Deputi Bidang Pemberdayaan Masyarakat, Kemenko PMK, Magdelana mengungkapkan bahwa kopi Lampung memiliki keunggulan yang sudah menjadi ciri khas yang melekat, yaitu rasa dan aroma yang menonjol. Karena kedua hal tersebut kopi Lampung memiliki tempat tersendiri bagi pecinta kopi.

Menurut Magdalena, Lampung merupakan produsen kopi robusta terbesar di Indonesia dengan kapasitas produksi sebanyak 140.000 – 150.000 ton/tahun dan lahan mencapai 163.179 ha dengan melibatkan petani sebanyak 200.000 kepala keluarga. Jadi tidak heran kalau Lampung merupakan pintu gerbang utama ekspor kopi Indonesia.

“Bahkan pada tanggal 13 Mei 2014, Kopi Robusta Lampung mendapat Sertifikat Indikasi Geografis (IG) dengan lokasi Masyarakat Indikasi Geografis (MIG) di Kabupaten Lampung Barat, Way Kanan dan Tanggamus. Melihat potensi tersebut, Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Kemenko PMK) akan mencanangkan kopi Lampung sebagai warisan budaya,”jelas Magdalena.

Pernyataan tersebut juga senada dengan Sidqy, bahwa kopi rakyat Lampung akan didorong pengembangannya.  Hal ini merupakan program Jembatan untuk mendorong inklusifitas program Pemberdayaan Masyarakat berbasis ekonomi dan budaya dan sebagai cermin terhadap kinerja Pemerintah bagi terciptanya Gerakan Masyarakat Berbasis Budaya.

Kegiatan workshop tersebut terbagai dalam dua session, session pertama menampilkan narasumber Lucyana dari Direktorat Perkebunan, Kementerian Pertanian, Fajar Sumanteri dari NGO Konsorsium Kotagaung Utara (Korut) dan  Junda Aulia dari PT. Nestle. Adapun pada session kedua menampilkan narasumber dari Dinas Koperasi, UMKM dan Perindustrian Kab. Tanggamus, Yoyon Ahmudiarto dari LIPI, dan Tri Yuni Kurniasih dari d’Excellent. (DAM)