Oleh humas2 on August 01, 2016

Lebak, Banten (1/08)--- Kemenko PMK mengunjungi Masyarakat Adat Baduy, Baduy Luar (Kampung Kaduketug) dan Baduy Dalam (Kampung Cikeusik), Desa Kanekes, Kec. Leuwidamar, Kab. Lebak, Banten selama dua hari (28-29 Juli 2016). Deputi bidang Koordinasi Pemberdayaan Masyarakat, Desa dan Kawasan Kemenko PMK, I Nyoman Shuida, memimpin rombongan Kemenko PMK dalam kunker kali ini yang terdiri atas Staf Ahli bidang Usaha Mikro, Kecil dan Menengah, Ekonomi Kreatif dan Ketenagakerjaan, Sidqy Lego Pangesthi Suyitno dan mitra kerja ‘Program Peduli.’

Kunker kali ini bertujuan untuk melihat dan mendengar langsung kondisi masyarakat setempat. Rombongan Kemenko PMK disambut oleh Perwakilan Masyarakat Adat Baduy Luar, Jaro Saija dan tokoh adat Baduy Luar sekaligus Kepala Desa Kanekes dan perwakilan beberapa tokoh adat Baduy Dalam. Selain untuk mempererat hubungan silaturahmi Pemerintah dengan masyarakat adat, kunjungan juga bermaksud menginventarisasi permasalahan yang dihadapi masyarakat adat dalam pelaksanaan pembangunan desa, serta evaluasi capaian ‘Program Peduli.’ Adapun partisipasi Pemerintah Daerah dalam kunjungan kali ini diwakili oleh Dinas Perhutanan Kabupaten Lebak, Dinas Pariwisata Kabupaten Lebak, dan perwakilan dari Kepolisian.

Masyarakat adat Baduy merupakan salah satu masyarakat adat yang masih sanggup bertahan di tengah modernisasi global. Masyarakat Baduy dikenal dengan prinsipnya yang teguh memegang amanat adat untuk hidup dalam kesederhanaan dan memilih untuk tidak memanfaatkan teknologi hasil perkembangan jaman dalam kehidupan sehari-harinya. Mereka juga dikenal ketat dalam menyaring masuknya pengaruh-pengaruh eksternal yang dapat merubah kemurnian adat-istiadat yang diterapkan. Namun demikian, Baduy berhasil mendapatkan perlindungan dan pengakuan formal dari Pemerintah melalui Peraturan Daerah Nomor 32 Tahun 2001 tentang Perlindungan Atas Hak Ulayat Baduy.

Sebagaimana ketentuan adat, masyarakat Baduy wajib mengelola sebagian Tanah Ulayat sebagai sumber pangan dan kesejahteraan, sekaligus sebagai tempat pemukiman. Dengan luas Tanah Ulayat yang tetap, masyarakat kemudian menghadapi kendala dimana pertumbuhan penduduk menyebabkan kepadatan pemukiman dan kurangnya lahan produktif. Untuk itu, Kemenko PMK akan mengkaji kemungkinan dimanfaatkannya Dana Desa untuk menjawab kebutuhan atas lahan produktif itu. Secara regulasi, Dana Desa dapat dimanfaatkan untuk menyewa lahan produktif diluar wilayah desa.

Selain itu, akses terhadap layanan kesehatan dasar juga menjadi perhatian diskusi. Dengan ketentuan adat yang membatasi pembangunan fasilitas fisik, maka diperlukan pendekatan khusus untuk aksesi layanan kesehatan dengan memanfaatkan potensi berbasis masyarakat. Salah satu inisiatif baik masyarakat Baduy adalah dengan menggagas Gerakan Dana Sosial Bersalin (Dasolin). Dasolin dirancang untuk menjembatani akses penanganan gizi dan medis bagi balita, ibu hamil/menyusui di 65 kampung adat Baduy. Pelaksanaan Dasolin dikelola oleh masyarakat Baduy yang ditunjuk melalui musyawarah desa. Pengelola bertugas memfasilitasi tersalurkannya berbagai sumberdaya dari multi-pihak baik Pemerintah melalui program maupun barang-barang yang bersifat bantuan dan sumbangan dari donatur.

Adapun hal pokok lainnya yang disampaikan oleh perwakilan masyarakat adat Baduy, yaitu pengakuan atas agama Sunda Wiwitan dalam Kartu Tanda Penduduk. Masyarakat adat Baduy berharap agama yang mereka anut itu dapat diakui secara formal dan dicantumkan di dalam KTP tetapi hingga saat ini belum dapat terpenuhi. Kemenko PMK melalui mitra kerja ‘Program Peduli’, yaitu Kemitraan dan Yayasan Rimbawan Muda Indonesia akan memfasilitasi tindaklanjutnya dengan Pemerintah Daerah dan SKPD terkait. ‘Program Peduli’ merupakan inisiatif Kedeputian bidang Koordinasi Pemberdayaan Masyarakat, Desa dan Kawasan, Kemenko PMK dengan beberapa mitra kerja dalam enam Pilar Program yang salah satunya adala pemberdayaan Komunitas Adat Terpencil.

Kunjungan kerja ditutup dengan berpamitan ke kampung Baduy Dalam sebagai bentuk jalinan tali silaturahmi yang pernah dimulai oleh Presiden R.I. Soekarno, sekaligus membalas silaturahmi para tokoh adat Baduy Dalam yang pernah berkunjung ke Kantor Kemenko PMK pada tahun 2015 yang lalu.

Editor : Siti Badriah

Sumber: Kedeputian VII Kemenko PMK/Program Peduli