Oleh humas on March 23, 2016

Jakarta (23/03)--- Menko PMK, Puan Maharani, pagi ini mencanangkan gerakan Nasional Revolusi Mental (GNRM) di lingkungan BJPS Ketenagakerjaan pagi ini di halaman parkir gedung BPJS Ketenagakerjaan, Jakarta Selatan. Selain pencanangan, Menko PMK juga berkesempatan menempel salah satu potongan puzzle dari 1001 potongan yang disediakan panitia lalu menerima Penghargaan MURI dengan rekor pemasangan puzzle dalam jumlah terbanyak. Di akhir acara, Menko PMK menyerahkan Klaim Jaminan Kecelakaan Kerja (JKK) kepada ahli waris Alm. Bambang Irawan, Plantation Director PT Satria Multi Sukses, Pekerja Penerima Upah (PPU) Kepesertaan Kantor Cabang Pontianak yang meninggal dunia di tempat kerja. Total santunan yang dibayarkan kepada ahli waris sebesar Rp3.577.988.210 yang terdiri atas santunan kecelakaan kerja, santunan berkala, biaya pemakaman, jaminan hari tua dan jaminan pensiun.

Pasca dilantiknya jajaran direksi dan dewan pengawas BPJS Ketenagakerjaan Februari lalu oleh Presiden RI, Joko Widodo, BPJS Ketenagakerjaan langsung menggelar GNRM sebagai bukti kesiapan lembaga perlindungan sosial bidang ketenagakerjaan ini untuk menjalankan dan membudayakan nilai-nilai revolusi mental dalam kerja pelayanan mereka sehari-hari. Bahkan rencananya, BPJS Ketenagakerjaan akan menambah waktu layanannya hingga akhir pekan meskipun memang baru di beberapa kanwil tertentu dengan perhitungan jumlah peserta terbanyak.

"Pelayanan BPJS Ketenagakerjaan harus dapat menciptakan suasana dan kondisi di mana peserta BPJS setelah berurusan, pulang dengan tersenyum dan senang, karena merasakan layanan dan manfaat BPJS Ketenagakerjaan.... Saya berharap seluruh jajaran BPJS Ketenagakerjaan menjadi pelopor perubahan dalam GNRM. Perubahan pelayanan yang lebih terukur, pemberian manfaat yang prima dan pasti." Demikian Menko PMK dalam sambutannya.

Menko PMK berpesan pula kepada seluruh karyawan BPJS Ketenagakerjaan untuk "menularkan" nilai-nilai revolusi mental dalam melaksanakan tugas mereka sehari-hari, mulai dari menjaga lingkungan yang bersih dan nyaman; membiasakan sapa dan senyum, hingga menjaga integritas dalam bekerja. "Semua itu harus dilakukan terus menerus dan jangan pernah berhenti sebatas acara pencanangan ini saja. Rangkul, ajak, berlaku ramahlah dengan mereka para peserta terutama yang tergolong 'wong cilik.'" imbau Menko PMK lagi. (IN/foto:dwi/humas)