Oleh humas on April 02, 2018

Jakarta (02/04)--- “Karena jangan sampai sekolah-sekolah kita kekurangan guru, meskipun sekarang rasio antara guru dengan murid sudah baik,” tandas Menko PMK usai mengikuti rapat bersama Wapres RI, Jusuf Kalla; Mendikbud, Muhadjir Effendy; Menteri PAN/RB, Asman Abnur; dan MenPAN/Kepala Bappenas, Bambang Brodjonegoro di Kantor Wakil Presiden, Jakarta, Senin pagi.

Seusai rapat, Menko PMK dalam keterangannya kepada wartawan menjelaskan bahwa rapat menyepakati  kalau pemerintah akan mengkaji kembali jumlah pasti kebutuhan guru, penempatannya nanti, dan spesialisasi guru sesuai dengan mata pelajarannya. “Kami juga sepakat mengkaji aturan hukum jam kerja guru, berapa lama mereka berada di sekolah, bertatap muka dengan murid di sekolah, dan sebagainya,” tambahnya lagi. Menko PMK pada kesempatan ini juga menekankan perlunya koordinasi antara Kemendikbud, Kemenag, KemenPAN/RB, Kemenkeu, dan kementerian terkait lainnya dalam menjalankan tata kelola kebutuhan beserta rekrutmen guru. “Yang paling penting adalah jangan sampai ada sekolah yang mengaku kekurangan guru karena itu dapat berarti menghambat upaya kita bersama mencerdaskan generasi muda bangsa. Jika sudah pasti berapa kebutuhannya, proses rekrutmen guru dan tata kelolanya dapat dijalankan secara bertahap mulai tahun 2018 ini hingga nanti tahun 2024.”

Menko PMK juga menjawab pertanyaan wartawan tentang guru honorer yang menurutnya juga terus dikaji agar supaya mereka dapat terus mengajar. “Kita tentukan dulu jumlah pasti berapa kebutuhan guru, agar rasio yang sudah baik ini terus seimbang dan tidak ada lagi kasus kekurangan guru,” kata Menko PMK menutup keterangannya.

Secara keseluruhan, jumlah guru menurut Kemendikbud saat ini mencapai 3.017.296 guru yang terbagi atas guru PNS sekitar 1.483.265 guru atau 49 persen dan guru Non PNS yang mencapai 1.534.031 guru atau sekitar 51 persen. Para guru ini tersebar di semua tingkatan sekolah baik negeri maupun swasta. Hingga tahun 2024, Kemedikbud membutuhkan guru tambahan yang jumlahnya mencapai 707.324 guru setelah dilakukan efisiensi dari angka kebutuhan semula yang mencapai 988.133 guru. Angka kebutuhan guru diperhitungkan oleh Kemendikbud berdasarkan perhitungan standar dan efisiensi. Perhitungan efisiensi yaitu guru mengajar maksimal 30 jam pelajaran seminggu, dengan multi-grade danmulti-subject teaching, sedangkan perhitungan standar yaitu guru mengajar maksimal 24 jam pelajaran seminggu, tanpa multi-grade dan multi-subject teaching.

Tambahan guru oleh Kemendikbud akan dilakukan rekrutmen secara bertahap dan nantinya untuk akses, mengisi guru pensiun, dan menjaga keseimbangan rasio rombel dan guru PNS terhadap siswa. Kebutuhan guru yang sangat mendesak saat ini saja mencapai 127.519 guru. Pengangkatan guru perlu segera dilakukan terutama untuk daerah yang tingkat kebutuhannya sangat tinggi dan anggaran gaji guru yang akan diangkat dapat diambil dari kelebihan Alokasi Anggaran DAU gaji guru yang ditransfer ke daerah.

Untuk guru madrasah, Kemenag mencatat bahwa jumlah guru madrasah dan guru agama secara keseluruhan saat ini mencapai 492.051 guru yang terbagi atas 144.817 guru PNS madrasah semua tingkatan (Ibtidaiyah, Tsanawiyah, dan Aliyah) dan 347.234 guru PNS agama. Hingga tahun 2022, Kemenag memburuhkan guru tambahan sebanyak 212.568 guru. Secara khusus, rekrutmen guru madrasah belum termasuk kebutuhan guru PNS di madrasah swasta. Pengangkatan guru dilakukan dengan memprioritaskan guru non PNS yang sudah bersertifikasi. Kebutuhan guru diproyeksikan dapat terpenuhi selama lima tahun (2018-2022). (*)

Categories: