Oleh humas on October 18, 2018

Jakarta(17/10)-- Pemerintah Indonesia menaruh perhatian besar pada masalah kesetaraan gender. Pada tahun 2000 telah dikeluarkan Instruksi Presiden No. 9 tentang Pengarusutamaan Gender dalam Pembangunan Nasional. Masuknya isu kesetaraan gender di SGDs adalah keberhasilan Indonesia dan banyak negara berkembang dengan adanya upaya bersana dan kemitraan dalam mencapainya. Angka Indeks Pemberdayaan Gender (IDG) saat ini masih berkisar pada angka 70 yang artinya pemberdayaan perempuan masih menjadi agenda yang belum terselesaikan. Demikian disampaikan Plt. Deputi Bidang Koordinasi Perlindungan Perempuan dan Anak Kemenko PMK, Ghafur Akbar Dharmaputra, mewakili Menko PMK, Puan Maharani, pada acara Indonesia Global Compact Network , di JS Luwansa Hotel, Jakarta.

Indonesia Global Compact Network (IGCN) berada di bawah naungan PBB yang fokus menangani pelopor SGDs dan merupakan jaringan lokal dari United Nation Global Compact sebagai salah satu inisiator pembentukan wadah filantropi dan bisnis Indonesia untuk SGDs. "Untuk menyuarakan Global Goals kita memerlukan lebih banyak perempuan untuk terlibat dalam seluruh aspek kehidupan," tutur Ghafur. Berkat perjuangab wanita yang dicetuskan oleh R.A. Kartini, perempuan Indonesia kini mempunyai kebebasan. Kartini dan penerusnya membuka jalan perempuan Indonesia dari keterbelakangan. Dimulai dari pendidikan, kaum perempuan menjadi sadar akan hak dan tanggungjawabnya. 

Berbicara pemberdayaan perempuan dalam mempercepat pembangunan berkelanjutan harus dilakukan upaya-upaya dengan meningkatkan akses pendidikan, kesehatan, kesejahteraab, serta meningkatkan partisipasi perempuan dalam ekonomi, sosial, budaya, dan politik. Kebijakan pemerintah dalam pemberdayaan ekonomi perempuan diwujudkan dalam berbagai bentuk pelatihan untuk menstimulasi usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Pelatihan ini ditujukan agar menambah keterampilan dan dapat menghasilkan industri rumahan sendiri. Selain itu, pemerintah juga menyalurkan bantuan sarana pendukung untuk membangun industru kecil dab mikro melalui pendirian Science and Techno Park. "Sebagai upaya pembangunan manusia berkarakter, perempuan harus berani menyuarakan pendapat dan menjadi perempuan yang kuat. Perempuan harus punya karakter berani dan mandiri. Kita harus membangun karakter perempuan agar tidak lagi digambarkan sebagai tokoh pasif yang diobjektivikasi. Perempuan harus cerdas, berani dan hidup bebas," pungkasnya. 

Pada kesempatan ini pula disampaikan Martha Tilaar sebagai salah satu dari 10 pelopor terbaik di  dunia yang ditetapkan mendapat Penghargaan dalam  Pembangunan Berkelanjutan, dari United Nation Global Compact. Martha Tilaar dengan sumbangsihnya kepada Indonesia menyumbangkan Prestisius dari para Pemimpin bisnis di bawah naungan PBB, diwujudkan melalui pekerjaan luar biasa beliau untuk mengambil tindakan terhadap isu-isu pembangunan berkelanjutan melalui perusahaan yang beliau kelola atau memobilisasi perusahaan lain serta bersinergi secara aktif membantu tujuan SGDs. "Saya mendorong perempuan dapat lebih banyak berpartisipasi dalam pembangunan untuk meningkatkan pemberdayaan perempuan. Tidak saja untuk masa kini tetapi juga untuk masa yang akan datang agar tetap berkesinambungan," tutup Ghafur. 

Ghafur juga menyampaikan apresiasinya terhadap Martha Tilaar yang merupakan perwujudan Kartini modern masa kini. Beliau memberikan contoh bagaimana perempuan berperan dalam pembangunan berkelanjutan. Turut hadir dalam acara ini Presiden IGCN, Y. W. Junardy, Martha Tilaar, Perwakilan dari Kementerian PPPA, serta hadirin lainnya. (*)

Categories: