Oleh humas on January 05, 2020

Lebak (4/1) -- Kondisi sejumlah wilayah di Tanah Air yang terdampak bencana banjir awal tahun hingga kini masih memprihatinkan. Di Kabupaten Lebak, Banten, beberapa jembatan yang menghubungkan antar desa terputus serta ribuan warga terpaksa bertahan di pengungsian akibat kehilangan rumah yang rusak dan terbawa arus.

Data menunjukkan, ada 4.346 Kepala Keluarga (KK) yang tersebar di tujuh posko pengungsian yaitu Posko Pengungsian Gedung PGRI Kecamatan Sajira, Posko Pengungsian Nangela Desa Calungbungur Kecamatan Sajira, Posko Pengungsian Desa Tambak Kecamatan Cimarga, Posko Pengungsian Kantor Kecamatan Cipanas, Posko Pengungsian Kecamatan Curugbitung, Posko Pengungsian Gedung Serba Guna Kecamatan Lebak Gedong, dan Posko Pengungsian Gedung Futsal Desa Banjar Irigasi Kecamatan Lebak Gedong.

Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Muhadjir Effendy mengatakan bahwa berdasarkan arahan Presiden Joko Widodo, pemerintah akan memprioritaskan pemenuhan kebutuhan korban dalam penanganan pasca bencana, termasuk untuk banjir bandang yang melanda Kabupaten Lebak.

"Sesuai arahan Presiden, pertama harus diprioritaskan korban banjir termasuk bagaimana kebutuhan hidup sehari-hari harus dipenuhi, kemudian kesehatan, ketiga adalah masalah pemukiman sementara," ujarnya saat peninjauan langsung ke lokasi pengungsian di Banjar Irigasi, Lebak, Banten, Sabtu (4/1).

Menurut hasil laporan tim yang bertugas di posko-posko pengungsian, distribusi bantuan  berupa kebutuhan pangan pokok sejauh ini sudah berjalan lancar. Pemerintah Kabupaten Lebak juga sudah menurunkan tim kesehatan terutama para dokter yang sedia berjaga di beberapa titik lokasi pengungsian.

Sedangkan untuk pemulihan trauma (trauma healing), Muhadjir meminta agar tidak hanya mengandalkan dari lembaga resmi pemerintah melainkan turut melibatkan masyarakat. Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) juga didorong untuk turun langsung mendampingi para korban banjir di pengungsian.

"Untuk jembatan karena berkaitan dengan infrastruktur maka perlu penanganan lebih teliti dan direncanakan dengan baik melibatkan pihak-pihak yang kompeten seperti Kementerian PUPR serta pemerintah daerah setempat," imbuhnya.

Ia pun mengutarakan, Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Doni Monardo telah berinisiatif meminta bantuan Panglima TNI dari Zeni Bangunan untuk membangun jembatan-jembatan sementara. Sedikitnya ada tiga jembatan yang dibutuhkan untuk membuka akses masyarakat agar tidak lagi terisolir.

Kepala BNPB Doni Monardo yang juga turut hadir mendampingi bersama Deputi Bidang Koordinasi Kerawanan Sosial dan Dampak Bencana Kemenko PMK Doddy Usodo HGS mengurai penyebab bencana banjir bandang di wilayah Sungai Ciberang, Kabupaten Lebak. Selain faktor hujan yang cukup lebat di wilayah hulu Gunung Halimun Salak juga karena sisa aktivitas penambangan yang ditinggalkan.

"Jadi tambang-tambang yang ditinggalkan itu ambrol dan longsor membawa material bebatuan dan juga lumpur. Inilah yang menyapu sepanjang daerah Sungai Ciberang hingga menyebabkan kerugian cukup masif yaitu sekitar 1.000 unit rumah yang statusnya rusak berat dan sebagian besar hanyut terbawa arus," tutur Doni.

Menurutnya, pemerintah sudah menyiapkan dana tunggu hunian bagi para korban sebesar Rp500 ribu/bulan per-keluarga. Dana itu nantinya akan digunakan untuk biaya sewa rumah masyarakat lainnya yang tidak terdampak bencana sebab pemerintah tidak lagi membangun hunian sementara (huntara).

Selain itu, pemerintah mengalokasikan anggaran untuk korban rumah rusak berat sebesar Rp50 juta, Rp25 juta untuk rumah rusak sedang, dan Rp10 juta untuk rumah rusak ringan. Oleh karenanya, daerah diminta segera melakukan pendataan masyarakat yang berhak menerima bantuan.

"Kita sangat berharap masyarakat jangan terlalu lama di pengungsian. Selama proses menunggu untuk rumahnya dibangun, masyarakat bisa menyewa dan semoga dalam waktu tidak lebih dari enam bulan rumah stimulan sudah bisa dihuni," pungkasnya.

Pada kesempatan itu, Bupati Kabupaten Lebak Iti Octavia Jayabaya menghaturkan terima kasih atas bentuk nyata kehadiran pemerintah pusat yang langsung turun melihat kondisi wilayah terdampak bencana banjir bandang serta ikut membantu para korban terutama yang berada di pengungsian.

Ia berharap upaya penanganan pasca bencana banjir bandang khususnya di Kabupaten Lebak akan secara kontinyu dilakukan sehingga kondisi segera pulih dan masyarakat bisa kembali hidup dengan layak.

Usai melihat langsung kondisi jembatan putus dan menyambangi para pengungsi korban banjir bandang di Kabupaten Lebak, Banten, Menko PMK beserta Kepala BNPB dan rombongan melanjutkan kunjungan menemui para korban banjir di Pasir Madang, Sukajaya, Bogor.

Mewakili pemerintah, Menko PMK sekaligus menyerahkan bantuan secara simbolis kepada para pengungsi berupa Dana Siap Pakai (DSP) sebesar Rp500 juta. Bantuan DSP sebelumnya juga diserahkan di Lebak Banten sebesar Rp350 juta untuk penanganan darurat.

Mengakhiri pemantauan hari ini, Menko PMK menyambangi Gudang Logistik Jatiasih, Bekasi, yang dijadikan pos pengungsi korban banjir di sekitaran Jatiasih. Menko PMK menyerahkan bantuan DSP Rp1 miliar untuk digunakan pemulihan kebersihan rumah-rumah warga yang terdampak bencana banjir.

Sementara itu, Kemensos juga ikut memberikan bantuan berupa paket makanan siap saji, paket sandang, peralatan dapur keluarga, family kit, tenda, selimut, kasur, paket lauk pauk, makanan anak, dan mie instan. Tak ketinggalan, BNPB selain DSP juga memberikan selimut, matras, paket sembako, dan light shower.