Oleh humasnew on December 05, 2018

Jakarta (5/12)–Menindaklanjuti arahan Presiden tentang pembangunan SDM untuk mengakselerasi pembangunan ekonomi, Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan RI (Kemenko PMK), pagi ini, mengadakan rapat tentang isu dan kebijakan strategis pembangunan SDM untuk mengakselerasi pembangunan ekonomi di ruang rapat taskin. Rapat ini dipimpin oleh Deputi Bidang Koordinasi Pendidikan dan Agama, Agus Sartono.

Dalam paparanya, Agus menyebutkan bahwa ada persoalan dengan ketenagakerjaan di Indonesia. Dari data tahun 2016, komposisi tenaga kerja di Indonesia 65 % didominasi dengan pekerja berlatar belakang pendidikan SMP, 25 % berlatar belakang pendidikan SMA. Untuk itu Agus menegaskan bahwa persoalan ini tidak akan dapat diselesaikan dalam kurun waktu 5-10 tahun ke depan, selama tidak memperbesar kapasitas di pendidikan tinggi. Sebab, setiap tahun ada 3,3 juta anak SMA yang harus kuliah, sementara daya tampungnya hanya 60 % dan sisanya masuk ke lapangan kerja.

“ Yang masuk lapangan kerja ini adalah orang-orang berasal dari keluarga tidak mampu dan memilih masuk SMK, maka tidak heran data survey di Kompas menyatakan bahwa pengangguran berasal dari lulusan SMK,“ tegasnya.

Agus juga mengingatkan bahwa saat ini kita dihadapkan dengan tantangan revolusi industri. Adapun karakter dari revolusi industri adalah teknologi yang menyatu dengan masyarakat dan tubuh manusia dan penguasaan IPTEK dan inovasi sejalan dengan i4.0 menjadi kunci daya saing global suatu bangsa di masa depan.
Proses pembangunan SDM adalah proses yang kontinyu/berkesinambungan yang dimulai dari yang dimulai dari usia 0-2 tahun, PAUD, pendidikan formal dan non formal, pendidikan tinggi  kemudian ke dunia kerja dan yang terakhir membentuk keluarga baru. Untuk itu, kesehatan menjadi syarat utama dalam mewujudkan SDM yang berkualias.

"Fokus pemerintah dalam kontek pengembangan SDM adalah bagaimana mengatasi angkatan kerja agar mendapatkan manfaat yang maksimal. Karena jika bonus demografi di dominasi oleh SDM yang berlatar belakang  SMA, produktifitasnya pasti lebih rendah jika dibandingkan dengan yang berlatar pendidikan di perguruan tinggi," ujarnya.

Turut hadir dalam rapat tersebut Sekretaris Jenderal Kementerian Riset, teknologi dan pendidikan tinggi, Ainun Naim, Dirjen Sumber Daya IPTEK  dan Pendidikan Tinggi, Ali Ghufron Mukti, Tenaga Ahli Menkominfo, Dedy Permadi, Asisten Deputi Pendidikan Tinggi dan Pemnfaatan IPTEK, Asril, Asisten Deputi Pendidikan menengah dan Ketrampilan Bekerja, Raden Wijaya Kusumawardhana, Asisten Deputi PAUD, Pendidikan Dasar dan Pendidikan Masyarakat, Femmy Eka Kartika Putri, Staf Ahli bidang Usaha Mikro, Kecil Menengah LKdan Ekonomi Kreatif, Sidqy Lego Pangesty, serta perwakilan dari Kementerian / Lembaga Terkait.

Categories: