Oleh humas on October 05, 2018

Semarang (5/10)-- Hari ke-2 pelaksanaan seminar Pembentukan Keluarga Berkarakter Melalui Konsep Mindful Parenting Kepada Para Remaja merupakan pendalaman materi yang disampaikan oleh Melly Kiong dan Yusri Heni dari Komunitas Management Keluarga Yayasan Karakter Eling Indonesia (YKEI). Kegiatan diselenggarakan di Hotel Gumaya Semarang, Jawa Tengah dan diikuti lebih dari 200 remaja dari berbagai latar belakang dan daerah se Jawa Tengah.

Melly menyampaikan bahwa Mindful Parenting yang artinya “Mengasuh berkesadaran” dimana mengacu pada kesadaran orang tua dalam mengasuh yang mengacu pada konsep yang berkesadaran, eling dari pikiran, ucapan dan perilaku yang kurang pantas. Orangtua yang memiliki kesadaran dalam mengasuh putra putrinya agar menjadi pribadi-pribadi yang unggul. 

“Konsep pengasuhan ini sebenarnya sangat mudah untuk diadopsi jika orang tua memiliki perhatian yang benar dan sadar menerima pengalaman saat ini ( present moment),  sehingga orangtua bisa memadukan antara pendengaran dan perhatian penuh. Hasil akhir dari sebuah proses pengasuhan berkesadaran ini adalah membangun hubungan yang aman antara orangtua dan anak.” Jelas Melly.

Oleh karena itu, lanjut Melly, dalam konsep mindful parenting ada 5 dimensi yang harus diingat dan dipraktekkan, yaitu: Pertama, mendengar dengan perhatian dan berbicara dengan empati. Kedua, pemahaman dan penerimaan untuk tidak menghakimi diri sendiri dan anak. Ketiga, kesadaran emosional (sabar) diri sendiri dan anak. Keempat, pengaturan diri dalam hubungan pola asuh. Kelima, welas asih untuk diri sendiri dan anak.

Mental Daya Juang

Untuk meningkatkan daya juang, membentuk mental, serta karakter yang kuat pada anak, penggunaan hukuman bagi anak saat ini sudah tidak lagi tepat. "Tidak bisa disamakan dulu dengan sekarang. Dulu komunikasi sangat satu arah. Sekarang komunikasi dua arah. Dua arah pun tetap kita budaya timur. Anak harus menghargai orang tua itu harus dipertahankan," katanya.

Namun, untuk membuat hubungan dengan anak bukan berarti orangtua harus membangun citra diri yang ditakuti. Di sisi lain, anak juga tidak harus setara dengan orangtua. "Mendidik itu tidak harus selalu keras. Ketika saya ingin anak punya daya juang, bukan berarti harus saya harus kerasin dia," ujarnya.

"Ketika saya mau dia punya daya juang, saya coba bikin satu stimulasi sederhana. Misalnya dia dapat lima stiker baru dia bisa beli mainan," ujar pendiri komunitas Menata Keluarga tersebut.

Melly kurang menyukai istilah "hukuman" atau punishment dalam mendidik anak. Menurutnya, ungkapan yang lebih tepat adalah "konsekuensi". Misalnya seperti tadi. Kalau dia melakukan tugasnya dengan baik dia dapat satu stiker. Kalau dia tidak melakukan dia tidak dapat stiker. Ketika dia dapat lima stiker berarti dia boleh beli mainan, tapi ketika dia tidak mendapatkan stiker, konsekuensinya dia tidak beli mainan.

Menurut Melly, hal itu sesungguhnya memberikan pelajaran pada anak secara tidak langsung, agar memiliki daya juang. Jadi dengan cara seperti itu, saya akan memberikan anak-anak sebuah edukasi bahwa perjuangan itu sangat penting. Mental juang itu penting.

Sementara itu, Yusri Heni dalam presentasinya lebih menekankan pada pengenalan bakat atau mapping talent. Menurutnya mengenali bakat sejak dini dapat memberikan jalan kesuksesan di masa depan. Bakat yang ideal, lanjut Heni, biasanya mencakup 4E yaitu Enjoy, Easy, Excellent, dan Earn. 

Seminar juga diisi dengan Fokus Grup Discus (FGD) dan dilanjutkan dengan simulasi permainan peran. Dalam simulasinya tersebut para peserta diminta membuat script skenario dengan tema yang telah ditentukan lalu skenario tersebut dibuat role play atau film pendek dengan durasi maksimal 3 menit. 

Seminar Pembentukan Keluarga Berkarakter Melalui Konsep Mindful Parenting Kepada Para Remaja ditutup oleh Asisten Deputi Ketahanan dan Kesejahteraan Keluarga Kemenko PMK, Wahyuni Tri Indarty. Dalam sambutannya Nunik menyampaikan bahwa kegiatan ini bukanlah akhir, tetapi sebuah langkah awal untuk mengimplementasikan gerakan revolusi mental yang dimulai dalam diri kita, dilanjutkan di dalam keluarga, lingkungan sekitar, masyarakat dan seterusnya. (DAM)

Categories: