Pemerintah Atasi Dampak Ekonomi Covid-19 Dimulai dari Akar Rumput

Jakarta (13/4) -- Wabah Covid-19 tengah menyerang bangsa ini dengan sangat cepat. Tidak saja jumlah kasus positif yang terus bertambah, dampak akibat penyebaran virus corona asal Cina tersebut juga meluas terutama di sektor ekonomi.

Pemerintah memiliki tiga kebijakan utama dalam penanganan Covid-19. Pertama, fokus pada sektor kesehatan melawan corona. Kedua, jaring pengaman sosial untuk membantu masyarakat. Ketiga, economic survival untuk pondasi ekonomi Indonesia.

Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Muhadjir Effendy menegaskan bahwa pemerintah akan memastikan seluruh masyarakat terutama yang mengalami dampak langsung akibat Covid-19 dapat terpenuhi kebutuhan sehari-hari. 

"Tidak ada satu pun yang tidak terkena dampak (ekonomi-red). Tetapi target kita sekarang ini adalah survival, memastikan akar-akarnya agar jangan sampai rapuh sehingga nanti pada saatnya bisa cepat bangkit kembali," ujar Menko PMK saat wawancara bersama Kompas TV pada acara Sapa Indonesia Malam, Senin (13/4).

Sesuai arahan Presiden, seluruh kementerian sudah melakukan refocussing dan realokasi anggaran untuk mengantisipasi dampak dari Covid-19. Selain itu juga terdapat alokasi dana tambahan sebesar Rp110 triliun untuk membantu masyarakat yang turut terdampak.

Menurut Muhadjir, sejauh ini pemerintah telah mengantongi data masyarakat yang akan menerima bantuan baik berupa sembako maupun bantuan langsung tunai (BLT). Namun sebagian data masih dalam proses yakni calon penerima yang terkategori rentan miskin karena terdampak Covid-19.

"Presiden meminta paling tidak minggu ini harus sudah disalurkan. Tentu tidak serta merta, terutama untuk penambahan ini perlu dilacak dan sementara dibantu dulu yang sudah ada datanya," cetus Menko PMK.

Kendati di sisi lain, mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan itu pun mengutarakan hikmah di balik pandemi Covid-19. Pada momentum inilah justru jati diri bangsa yang menjunjung tinggi solidaritas dan gotong-royong kembali terlihat.

Ada rasa kesetiakawanan, solidaritas, dan gotong-royong yang mampu meringankan beban lantaran musibah Covid-19. Seiring kemudian rasa itu memunculkan empati nasional sehingga satu sama lain memiliki rasa tanggung jawab menolong sesama.

Muhadjir menyontohkan, dalam kehidupan sehari-hari di saat ada masyarakat yang diharuskan menjalani isolasi mandiri, para tetangga bukan menjauhi tetapi saling mendukung dengan mengirimkan makanan dan kebutuhan hidup namun tetap menjaga jarak.

"Saat ini saya kira kepribadian Indonesia keluar dalam bentuk yang orisinil, yang otentik ketika kita menghadapi musibah yang sangat dahsyat ini," pungkas Menko PMK.

Kontributor Foto: