Berikan Wejangan Pada Penerima BPI LPDP, Agus Sartono: Kalian Harus Jadi Duta Bangsa

Jakarta (11/3) -- Pemerintah terus berupaya meningkatkan akses pendidikan anak bangsa. Salah satu upaya pemerintah dalam meningkatkan akses pendidikan anak bangsa adalah dengan memberikan Beasiswa Pendidikan Indonesia (BPI) melalui Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP).

Data LPDP menyebutkan, per 31 Desember 2019 Dana Alokasi Pendidikan (DAP) dalam bentuk Dana Pengembangan Pendidikan Nasional (DPPN) telah dicairkan sebesar Rp. 5 Triliun, salah satunya dicairkan untuk penyaluran BPI. Periode penerimaan 2019 pemerintah memberikan BPI kepada 2.209 orang laki-laki dan 2.462 orang perempuan yang akan melanjutkan studi di dalam dan di luar negeri.

Untuk gelombang terbaru, sebanyak 206 mahasiswa-mahasiswi penerima BPI tahun penerimaan 2019 yang termasuk angkatan 160 yang akan berangkat melanjutkan studinya di dalam dan di luar negeri. 

Deputi Bidang Koordinasi Pendidikan dan Agama Kemenko PMK Agus Sartono mengatakan, beragam upaya tersebut dilakukan pemerintah untuk mewujudkan Indonesia Emas dan menyiapkan penerus pemimpin masa depan bangsa.

"Jadi ini ikhtiar pemerintah Indonesia untuk menyiapkan calon pemimpin masa depan dan membangun SDM unggul. Masa kuliah 2-3 tahun bukan masa yang panjang, siapkan diri kalian untuk mengemban estafet kepemimpinan bangsa," ujar Agus Sartono mewakili Menko PMK Muhadjir Effendy saat memberikan pembekalan terhadap 206 mahasiswa-mahasiswi yang akan berangkat melanjutkan studi di Kantor Kemenko PMK, Rabu (11/3).

Menurut Agus, mereka yang memperoleh BPI LPDP harus bersyukur karena mereka termasuk ke dalam golongan anak yang mampu mengakses pendidikan hingga ke tingkat tinggi. Agus menyampaikan saat ini angka partisipasi kasar (APK) pendidikan tinggi baru sebesar 37 persen.

"Kalian harus bersyukur karena termasuk 37 persen yang bisa masuk ke perguruan tigggi. Setiap tahun ada 3,7 juta lulusan SLTA yang dapat diterima perguruan tinggi 1,8 - 1,9 juta. Artinya 1,8 juta terpaksa masuk pasar tenaga kerja Bentuk dari syukur itu harus wujudkan dengan belajar yang serius. Jangan jadi medioker. Kalau lulus setangah-setengah percuma, harus maksimal. IP (Indeks Prestasi) kalian harus bagus," kata Agus.

Agus menyitir pandangan filsuf Inggris Herbert Spencer yang menyebut "education has its own object for character formation". Dengan kata lain "Pendidikan itu tujuan utamanya membentuk karakter". Jadi cerdik pandai ditunjukan dengan IPK yang tinggi itu bagus. Tetapi semua itu belum cukup jika tidak disertai dengan karakter yang baik," pesannya.

"Jaga integritas kalian. Karena hidup kalian akan meaningless ketika kalian mengirbankan integritas. Misalnya saat kalian menulis paper lalu mencontek punya orang lain. Itu artinya mengorbankan integritas kalian," lanjut Deputi Agus.

Tidak hanya menjaga integritas, menurut Agus mahasiswa dan mahasiswi yang melanjutkan studi ke luar negeri harus menjaga budaya bangsa. Cara yang dapat dilakukan adalah dengan menjaga pergaulan dan bijak dalam menggunakan media sosial.

"Kalian harus jadi duta bangsa. Kalian harus terus membela bangsa kita dan memikirkan persoalan bangsa. Hindari salah pergaulan, hindari mengikuti organisasi dan pemikiran radikal yang tidak sesuai ideologi Pancasila. Dan juga hati-hati menggunakan media sosial. Harus terus berperilaku baik," pungkas Agus.

Masa kuliah 2-3 tahun bukan masa yang panjang, siapkan diri kalian untuk mengemban estafet kepemimpinan bangsa.

Kontributor Foto:
Editor :
Reporter: