Cegah Stunting dengan Sanitasi yang Baik

KEMENKO PMK -- Deputi Bidang Koordinasi Peningkatan Kualitas Kesehatan dan Pembangunan Kependudukan Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Kemenko PMK) Agus Suprapto menyampaikan apresasi kepada kepala daerah atas dedikasi yang tinggi dalam kepemimpinan untuk mewujudkan percepatan pembangunan sanitasi. 

Dia juga mengapresiasi atas inovasi yang dikembangkan pemda dalam pendanaan untuk mendukung percepatan pembangunan sanitasi di daerah yang dipimpinnya dan kolaborasi multipihak yang telah dibangun didaerahnya. 

Menurutnya, sanitasi yang baik merupakan faktor penting dalam mencegah berbagai macam masalah kesehatan dan gizi, salah satunya adalah untuk mencegah stunting. Hal itu dikatakannya saat menyampaikan keynote speech mewakili Menko PMK Muhadjir Effendy dalam acara City Sanitation Summit (CSS) XX yang diselenggarakan oleh AKKOPSI di ICE BSD, Kabupaten Tangerang, pada Rabu (07/09). 

"Sanitasi yang buruk dapat menimbulkan penyakit infeksi pada balita serta diare dan kecacingan yang dapat mengganggu proses pencernaan dalam proses penyerapan nutrisi, jika kondisi ini terjadi dalam waktu lama dapat mengakibatkan stunting," kata Agus. 

Berdasarkan hasil Studi Status Gizi Indonesia (SSGI) Kementerian Kesehatan, prevalensi Balita stunting sebesar 24,4% pada 2021. Artinya, hampir seperempat Balita Indonesia mengalami stunting pada tahun lalu. Namun, demikian, angka tersebut lebih rendah dibanding 2020 yang diperkirakan mencapai 26,9%. Pemerintah sendiri menargetkan stunting di Indonesia akan turun menjadi hanya 14% pada 2024. Agar dapat mencapai target tersebut, perlu upaya inovasi dalam menurunkan jumlah balita stunting 2,7% per tahunnya.

Hasil penelitian yang telah dilakukan juga diketahui bahwa balita yang mendapat akses ke sanitasi layak, 1,45-8,51 kali lebih mungkin untuk tidak stunting. Selain itu diketahui bahwa anak yang hidup di lingkungan terkontaminasi dengan sanitasi yang tidak layak memiliki risiko 40% mengalami stunting dan secara signifikan lebih tinggi di pedesaan dan pinggiran kota (43% & 27%) dibanding dengan yang tinggal di perkotaan. 

Menurut Deputi Agus, kondisi ini diperkuat dengan penelitian di 13 provinsi di Indonesia yang menemukan bahwa rumah tangga yang memiliki sanitasi yang baik berkontribusi positif dalam mengurangi angka kejadian stunting dan stunting berat pada pada anak balita di tahun 2007 – 2014.  

“Oleh karenanya dengan kondisi tersebut, jelas bahwa penyediaan sanitasi yang layak dan aman menjadi sangat penting dalam percepatan penurunan stunting pada balita di Indonesia," ungkap Agus. 

Deputi Agus Suprapto mengajak melalui acara City Sanitation Summit (CSS) Ke-XX Tahun 2022, agar semua pihak untuk mewujudkan pembangunan sanitasi yang aman bagi semua masyarakat di tahun 2030 melalui kerja bersama semua pihak baik di pusat maupun daerah sehingga segala upaya yang telah kita lakukan sampai ke masyarakat dan dirasakan manfaatnya oleh masyarakat. 

"Saya menyampaikan penghargaan setinggi-tingginya kepada semua lintas sektor di Pusat dan Daerah, mitra pembangunan dan lapisan masyarakat telah bahu membahu berjuang tanpa mengenal lelah untuk melaksanakan pembangunan air dan sanitasi  dan upaya  pengentasan stunting menuju SDM unggul yang kita perjuangkan bersama pada tahun 2045," tutup Agus.

Kontributor Foto:
Reporter: