Dana Abadi Kebudayaan Tingkatkan Ekspresi Budaya

Sekretaris Dirjen Kebudayaan Kemendikbudristek Fitra Arda menyebut, untuk merevitalisasi kembali kegiatan budaya, pihaknya meluncurkan dana abadi kebudayaan yang disebut dengan Dana Indonesiana. Program ini sesuai dengan amanat UU No. 5 Tahun 2017 dan Agenda Strategis Kebudayaan dan Perpres No. 111 Tahun 2021. 

“Ini merupakan bentuk upaya kita bagaimana kita menjaga suatu budaya setelah mendapat pengakuan agar bisa diwariskan kepada generasi selanjutnya secara turun temurun,” jelasnya.

Beragam tantangan harus dihadapi untuk meningkatkan ekspresi budaya itu terutama dukungan dana dari pemerintah. Kegiatan ekspresi budaya yang sifatnya dinamis memerlukan eksperimental dan spontanitas.

“Di sisi lain penggunaan anggaran negara membutuhkan perencanaan matang dan sulit diubah di tengah tahun. Selain itu, untuk kegiatan ekspresi budaya skala besar membutuhkan sarana anggaran yang lintas tahun,” tambahnya.

Tantangan lain datang saat pandemi COVID-19 yang tidak hanya menurunkan aktivitas sektor pendidikan saja tetapi juga segala kegiatan ekspresi kebudayaan yang ada di masyarakat. Banyak kegiatan ekspresi budaya yang tutup dan menimbulkan kerugian.

Berdasarkan riset Ditjen Kebudayaan Kemdikbud RI pada bulan Agustus 2021, menemukan fakta bahwa kegiatan kebudayaan sangat menurun.

Hal itu termasuk 65 % pelaku budaya yang sudah tidak bekerja serta sekitar 70 % ruang publik dan organisasi kebudayaan tidak aktif. Kegiatan banyak berpindah ke media sosial, tapi skalanya sangat terbatas. Akibatnya, pendapatan pelaku budaya menurun hingga 70 %.

“Untuk merevitalisasi kembali kegiatan ekspresi budaya yang terpukul, Dana Indonesiana adalah dana abadi kebudayaan," ujarnya.

Menurut Fitra, dana abadi artinya dana pokok dari Dana Indonesia tidak akan pernah digunakan dan akan diinvestasikan selamanya. "Dana pokok tersebut akan ditambah dan diakumulasikan dari tahun ke tahun," ujarnya.

Hasil pengelolaan atau bunga dari dana pokok, setiap tahunnya digunakan untuk mendukung kegiatan pemajuan kebudayaan. "Sehingga siklus keuangan pemerintah apapun, situasi keuangan pemerintah apapun, dana itu akan selalu ada. Itu kuncinya," papar Fitra.

Adapun total dana pokok yang digunakan sebesar 3 triliun, dan yang dimanfaatkan pada 2022 yakni 185 miliar. 

Besaran dukungan institusional bagi pengelola ruang budaya maksimal 500 juta, untuk lembaga kebudayaan/asosiasi profesi maksimal 1 miliar. Dukungan pendayagunaan ruang publik maksimal sebesar 250 juta dan 150 juta. Event/inisiatif strategis terkait kegiatan seni budaya yang berpengaruh, maksimal 2,5 miliar. Dukungan kegiatan ekspresi budaya maksimal 50 juta, dokumentasi karya/pengetahuan maestro maksimal 250 juta, penciptaan karya kreatif inovatif bagi perseorangan/kelompok maksimal 250/750 juta. Dana pendampingan karya internasional seperti film atau pertunjukan 1,5 miliar. Serta kajian OPK maksimal 250 juta.

“Diharapkan Dana Indonesiana ini dapat memperluas akses masyarakat pada sumber pendanaan untuk memperkuat keterlibatan publik dalam ekosistem pemajuan kebudayaan, menciptakan ruang inklusif, mendorong inisiatif masyarakat, mendokumentasikan pengetahuan/maestro, mendorong masyarakat untuk menciptakan karya kreatif inovatif, mendayagunakan ruang publik, dan menguatkan diplomasi budaya,” tutupnya. 

Hadir dalam rapat tersebut Deputi Bidang Koordinasi Revolusi Mental, Pemajuan Kebudayaan, dan Prestasi Olahraga KPMK,  Sekretaris Deputi Bidang Koordinasi Revolusi Mental, Pemajuan Kebudayaan, dan Prestasi Olahraga KMPK, Asisten Deputi Pemajuan dan Pelestarian Kebudayaan KPMK, Asisten Deputi Literasi, Inovasi, dan Kreativitas KPMK, Asisten Deputi Revolusi Mental KPMK, perwakilan Biro HUPOK KPMK, Biro Perencanaan dan Kerja Sama KPMK; Sekretaris Direktorat Jenderal Kebudayaan, Direktur Pelindungan Kebudayaan, dan Ketua Harian Komisi Nasional untuk UNESCO (KNIU), Kemendikbudristek.

Kontributor Foto:
Reporter: