Gerakan Indonesia Mandiri lewat Pembudayaan Literasi, Inovasi, dan Kreativitas

Pembudayaan Literasi, Inovasi, dan Kreativitas (LIK) merupakan wujud aksi Gerakan Nasional Revolusi Mental (GNRM)  khususnya dalam penanaman nilai-nilai etos kerja. Hal ini diharapkan dapat mendorong terciptanya perilaku masyarakat yang mandiri.

Literasi, Inovasi dan Kreativitas (LIK) harus terus distimulasi untuk mendorong peningkatan kualitas SDM Indonesia, yang berdaya saing dalam memanfaatkan dan melestarikan potensi objek pemajuan kebudayaan, meningkatkan kualitas hidup, kesejahteraan dan kesetiakawanan masyarakat, serta berkontribusi pada sektor ekonomi dan pembangunan melalui perluasan lapangan pekerjaan.

Hal tersebut juga merupakan wujud aksi nyata dari semangat Revolusi Mental yang disampaikan oleh Asisten Deputi Literasi, Inovasi, dan Kreativitas (LIK) pada Deputi Revolusi Mental, Pemajuan Kebudayaan, dan Prestasi Olahraga Kemenko PMK, Molly Prabawaty dalam Rapat Pengembangan Budaya Iptek, Inovasi, Kreativitas dan Daya Cipta untuk Mewujudkan Indonesia Mandiri di Kabupaten Belitung, Kamis (31/3).

Bertempat di Kantor Bappeda Kabupaten Belitung, rapat dihadiri oleh Wakil Bupati Belitung, Isyak Meirobie, para perwakilan lintas Organisasi Perangkat Daerah (OPD) Provinsi Kepulauan Bangka Belitung dan Kab. Belitung, serta Ayu Dewita mewakili Asisten Deputi Revolusi Mental. Kehadiran tim Revolusi Mental dalam rapat ini bertujuan untuk mendorong internalisasi nilai-nilai GNRM melalui budaya LIK sebagai upaya mewujudkan Indonesia Mandiri serta melakukan pendampingan dan penguatan Gugus Tugas Daerah (GTD) Kab. Belitung.

Dalam kesempatan itu, Molly Prabawaty menjelaskan bahwa untuk  mewujudkan manusia yang berkualitas dan berdaya saing, pembangunan manusia   dilakukan berlandaskan 3 pilar. Tiga pilar itu meliputi layanan dasar dan perlindungan sosial, produktivitas, dan pembangunan karakter

“Untuk pembangunan karakter, strategi peningkatan budaya LIK turut mendukung capaian Prioritas Nasional (PN) Revolusi Mental dan  Pemajuan Kebudayaan. Melalui rapat ini harapannya kita dapat menginventarisasi isu permasalahan dan mendiskusikan solusi dalam upaya  pengembangan budaya iptek, inovasi, kreativitas dan daya cipta di kawasan Belitung.” ujar Molly dalam paparannya.

Dalam kesempatan itu, Ayu Dewita juga memberikan materi mengenai internalisasi nilai strategis instrumental revolusi mental melalui gerakan aksi yang terkait pengembangan budaya LIK. Ditegaskan Ayu, pembudayaan LIK sejalan dengan semangat revolusi mental khususnya dalam penanaman nilai-nilai etos kerja dan mendorong terciptanya perilaku masyarakat yang mandiri.

“Bisa melalui penanaman karakter lewat dongeng, perwujudan ekonomi kreatif dan wirausaha sosial, penyelenggaraan forum bedah buku, workshop dan perlombaan bertema inovasi dan kreatifitas, kepeloporan cinta budaya dan produk dalam negeri, adopsi koperasi sebagai model bisnis UMKM, penyelenggaraan pagelaran seni dan budaya, serta mendorong UMKM/penciptaan lapangan pekerjaan berbasis potensi lokal seperti kelautan dan perikanan yang menonjol di Belitung, “terang Ayu. 

Ayu juga mengapresiasi Pemerintahan Provinsi Kep. Bangka Belitung atas prestasinya dalam mewujudkan dimensi perubahan Indonesia Melayani dengan capaian Indeks Pelayanan Publik (IPP) tahun 2021 kategori sangat baik dan provinsi dengan IPP tertinggi kelima di Indonesia.

Selain itu, hasil Indeks Capaian Revolusi Mental (ICRM) 2018 juga memberikan gambaran yang sejalan. Kep. Bangka Belitung mencapai atas rata-rata nasional pada kelima dimensi, dengan total 75,27 (rata-rata nasional 67,01; target 2024: 74,29). Dimensi tertinggi pada Melayani, dan terendah pada Mandiri  walau tetapi masih di atas capaian nasional.

Kenyataan bahwa dimensi mandiri masih terendah itu diamini Wakil Bupati Kab Belitung, Isyak Meirobie dan kepala Bappeda Kab Belitung. Menurut  Isyak Meirobie hal tersebut terus menjadi perhatian utama pembangunan di Kab. Belitung yang menjadi target RPJMD 2018-2023 meliputi kesejahteraan masyarakat, kualitas SDM, tata kelola pemerintahan, dan daya saing potensi ekonomi dan lingkungan.

Menurut Isyak, penguatan transformasi digital juga menjadi kunci pembangunan daerah yang inovatif dan kreatif. Karenanya pemerintah Belitung sedang menjajaki dukungan lintas sektor mulai dari K/L Pusat serta dunia usaha seperti komunitas start-up, untuk menjadikan Belitung sebagai lokasi pilot project pengembangan inovasi dan kreativitas. 

Lebih lanjut komitmen Provinsi Kep. Bangka Belitung dalam GNRM juga terlihat dari upaya membentuk GTD di seluruh Kab/Kota (6 kab dan 1 kota), hingga saat ini khusus untuk Kab. Belitung GTD masih berjalan keanggotannya, namun belum melakukan pelaporan secara berkala. Untuk itu memang perlu pendampingan dan penguatan dalam GNRM.

Secara khusus, beberapa rekomendasi bagi penguatan peran GTD dalam pelaksanaan gerakan aksi perubahan di Kab. Belitung antara lain dengan penetapan Revolusi Mental menjadi bagian dari capaian rencana kerja periodik lintas OPD. Kedua, penajaman indikator capaian GNRM yang fokus pada dampak/outcome yang terukur untuk menangkap perubahan. Ketiga inisiasi kolaborasi dukungan CSR dunia usaha, kerja sama lintas pemerintah, akademisi dan masyarakat dalam pelaksanaan aksi perubahan di daerah, kampanye publik Revolusi Mental, serta pelaporan dan pemantauan berkala via SiMonev.

 

Kontributor Foto:
Reporter: