AI Harus Tetap di Bawah Kendali Manusia
KEMENKO PMK -- Deputi Bidang Koordinasi Penguatan Karakter dan Jati Diri Bangsa Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Kemenko PMK) Warsito menegaskan bahwa perkembangan kecerdasan artifisial atau Artificial Intelligence (AI) di kalangan pelajar perlu diimbangi kemampuan berpikir kritis, etika, dan karakter agar teknologi tetap berada dalam kendali manusia.
"Teknologi, termasuk AI, adalah alat untuk membantu manusia bekerja lebih efektif dan efisien. Tetapi kendalinya harus tetap berada pada manusia, bukan sebaliknya," ujar Warsito saat piloting dan diseminasi MOOC Bijak dan Cerdas Berdigital dan Ber-AI serta Cek Kesehatan Digital (CKD) di Provinsi Lampung, pada Kamis (27/8/2026).
Menurut Warsito, bijak dan cerdas berdigital tidak hanya berkaitan dengan kemampuan mengoperasikan teknologi, tetapi juga bagaimana teknologi digunakan secara sadar dan bertanggung jawab untuk tujuan positif, seperti belajar, mencari dan mengolah informasi, melakukan analisis, serta mengembangkan kreativitas.
Di sisi lain, pelajar perlu memahami risiko penggunaan teknologi agar perkembangan AI tidak mengikis kemampuan berpikir mandiri maupun karakter. Karena itu, literasi digital perlu dibangun bersama dengan daya kritis, etika, tanggung jawab, dan kemampuan mengambil keputusan.
"Anak-anak kita harus memahami manfaat teknologi, tetapi juga mengetahui risiko dan dampak negatifnya. AI membantu manusia, tetapi tidak boleh menggantikan akal sehat, nilai, dan tanggung jawab manusia," tegasnya.
Pentingnya penguatan tersebut tercermin dari hasil piloting yang sebelumnya dilakukan Kemenko PMK bersama mitra pada jenjang SD dan SMP. Pada piloting jenjang SD di Yogyakarta, Mei 2026, yang melibatkan 113 siswa, sekitar 80 persen peserta berhasil meningkatkan atau mempertahankan skor literasi digital. Namun, sekitar 35 persen masih keliru dalam memverifikasi informasi di internet dan 15 persen masih memaknai sikap bijak menggunakan teknologi sebagai larangan menggunakan internet.
Sementara itu, piloting jenjang SMP di Jakarta pada Juli 2026 menunjukkan peningkatan pemahaman siswa dari 77 persen menjadi 88 persen dengan tingkat kepuasan mencapai 4,31 dari skala 5. Evaluasi juga masih menemukan sejumlah miskonsepsi dalam penggunaan media sosial.
Menurut Warsito, temuan tersebut menunjukkan bahwa kedekatan pelajar dengan teknologi tidak otomatis membuat mereka memahami dan menggunakannya secara tepat. Literasi digital karena itu perlu membekali peserta didik dengan kemampuan memahami manfaat sekaligus risiko teknologi.
Setelah piloting jenjang SD di Yogyakarta dan SMP di Jakarta, Kemenko PMK bersama Dicoding Indonesia melanjutkan piloting pada jenjang SMA di Provinsi Lampung. Kegiatan dilaksanakan di SMAN 5 Bandar Lampung dan SMA Qur’an Darul Fatah dengan melibatkan sekitar 250 siswa.
Piloting ini melengkapi pemetaan pemahaman dan perilaku digital peserta didik dari jenjang SD, SMP hingga SMA. Hasilnya akan menjadi bahan penyempurnaan materi, metode pembelajaran, CKD, dan platform MOOC sebelum dimanfaatkan secara lebih luas.
Dalam kegiatan tersebut, siswa mengikuti Cek Kesehatan Digital, memperoleh materi Bijak dan Cerdas Berdigital dan Ber-AI, mempraktikkan pembelajaran melalui platform MOOC yang dikembangkan bersama Dicoding Indonesia, serta mengikuti evaluasi dan memberikan umpan balik.
Kegiatan turut dihadiri Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Lampung Thomas Americo, S.STP., M.H., Asisten Deputi Penguatan Budi Pekerti Kemenko PMK drg. Diana Sista Dewi, MBA, Kepala SMAN 5 Bandar Lampung Linda Krisnawati, M.Pd., dan Kepala SMA Qur’an Darul Fatah Fatkhurrohman, Lc., M.Pd.
Penguatan literasi digital tersebut menjadi bagian dari upaya Kemenko PMK memperkuat karakter generasi muda di tengah perkembangan teknologi dan AI. Melalui ekosistem #KARAKTERKITA, penguatan karakter didorong berlangsung secara terpadu di keluarga, satuan pendidikan, masyarakat, lingkungan keagamaan, dan ruang digital.
Bagi Kemenko PMK, tantangan perkembangan AI bukan dengan menjauhkan generasi muda dari teknologi, tetapi menyiapkan mereka agar mampu memahami, menguasai, dan memanfaatkannya secara bertanggung jawab. AI boleh semakin cerdas, tetapi manusia harus tetap memegang kendali.