Menko PMK: Kemenag Berperan Strategis dalam Transformasi Bangsa dan Pembangunan Manusia Unggul

KEMENKO PMK -- Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Sugiono menegaskan peran strategis Kementerian Agama (Kemenag) dalam mendukung agenda transformasi bangsa yang dipimpin Presiden Prabowo Subianto. Peran tersebut mencakup empat pilar, yakni menjaga kerukunan umat beragama, membangun karakter bangsa, mentransformasi pendidikan keagamaan, dan memperkuat tata kelola.

Arahan tersebut disampaikan Sugiono dalam Breakfast Meeting Kementerian Agama secara daring, yang dihadiri oleh seluruh jaringan Kemenag di seluruh Indonesia, pada Selasa (13/10/2026). Kehadiran ini menjadi yang pertama bagi Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan dalam forum rutin tersebut, sekaligus memperkuat sinergitas lintas kementerian dalam mendukung agenda transformasi bangsa.

Sugiono menyampaikan, Indonesia berpotensi menjadi kekuatan ekonomi terbesar keempat di dunia pada 2050. Untuk mewujudkannya, transformasi bangsa perlu ditopang oleh pembangunan manusia Indonesia yang unggul, dengan melibatkan berbagai sektor, termasuk agama dan pendidikan keagamaan. Dalam hal ini, jaringan Kemenag yang menjangkau seluruh Indonesia menjadi modal strategis untuk menyinergikan program pemerintah dan memperkuat pembangunan manusia.

"Kementerian Agama berperan penting setidaknya dalam empat hal, yaitu menjaga kerukunan dan toleransi beragama di Indonesia, membangun karakter bangsa yang memiliki mindset yang positif dan optimistis, melakukan transformasi sumber daya manusia melalui pendidikan, selain itu juga melakukan tata kelola dalam Kementerian Agama itu sendiri," ujar Sugiono.

Pada aspek kerukunan umat beragama, Sugiono menegaskan bahwa keberagaman harus menjadi kekuatan pemersatu bangsa. Ia mengapresiasi peningkatan indeks kerukunan umat beragama, sekaligus mengingatkan bahwa kerukunan tidak cukup diukur dari ketiadaan konflik, tetapi juga perlu diwujudkan melalui kebersamaan antarkelompok masyarakat. Ia juga meminta Kemenag berada di garis depan dalam menjaga kebinekaan serta menjadikan keberagaman sebagai kekuatan untuk mewujudkan kehidupan berbangsa dan bernegara yang harmonis.

"Nilai indikator ini adalah sesuatu yang bisa dan harus kita tingkatkan. Nilai ini menjadi pengingat bahwa kerukunan tidak cukup diukur dari ketiadaan konflik semata, namun juga harus membangun kebersamaan di tengah peradaban," katanya.

Pilar kedua adalah pembangunan karakter bangsa yang positif, optimistis, berintegritas, bertanggung jawab, dan disiplin. Sugiono menekankan bahwa pembentukan karakter perlu dimulai dari keluarga, dengan ketahanan keluarga sebagai fondasi dalam menyiapkan generasi penerus yang unggul.

"Tugas berat dan mulia dari Kementerian Agama adalah membangun karakter bangsa untuk menjadi fondasi utama, mencetak manusia Indonesia yang unggul," tegasnya.

Untuk mendukung hal tersebut, Sugiono menyoroti peran Kantor Urusan Agama (KUA) dalam memberikan bimbingan pranikah dan pendampingan pascanikah. Peran ini penting untuk membekali pasangan dalam membangun relasi yang sehat, mengelola konflik, serta menjalankan pengasuhan anak.

Pilar ketiga adalah transformasi pendidikan keagamaan. Sugiono menilai Kemenag memiliki modalitas besar melalui jaringan madrasah dan pesantren, terutama sistem pendidikan pesantren yang menyediakan lingkungan pembelajaran dan pembinaan selama 24 jam setiap hari. Potensi tersebut perlu dioptimalkan untuk membentuk generasi yang unggul dalam ilmu agama sekaligus menguasai sains dan teknologi.

"Pendidikan keagamaan juga harus mampu memadukan kedalaman ilmu agama dengan penguasaan sains, teknologi, matematika, dan kemampuan-kemampuan dasar lainnya," ujar Sugiono.

Menurutnya, lulusan pesantren dan madrasah harus memiliki kompetensi yang seimbang, baik dalam pendidikan agama maupun ilmu pengetahuan umum, termasuk sains, teknologi, teknik, dan matematika (STEM). Penguasaan tersebut menjadi bekal penting agar mereka mampu mengembangkan potensi, beradaptasi dengan perkembangan zaman, dan berkontribusi dalam pembangunan bangsa.

Sugiono juga mengingatkan bahwa Presiden Prabowo telah menginstruksikan percepatan revitalisasi madrasah sebagai program prioritas nasional. Ia meminta jajaran Kemenag memantau penyelesaian infrastruktur secara cermat agar pekerjaan yang masih berlangsung dapat dituntaskan pada 2026. Selain itu, kebutuhan dan kesejahteraan guru madrasah perlu menjadi perhatian utama.

Pilar keempat adalah penguatan tata kelola Kemenag untuk menjaga kepercayaan masyarakat. Sugiono menekankan bahwa nilai-nilai agama harus tercermin dalam integritas, profesionalisme, serta penyelenggaraan pemerintahan yang bersih dan berorientasi pada kepentingan rakyat.

"Good governance adalah kunci, dan nilai-nilai agama harus tercermin dalam integritas, profesionalisme dan tata kelola pemerintahan yang baik. Jauh dari korupsi, jauh dari penyalahgunaan wewenang dan benar-benar bekerja untuk kepentingan rakyat," tegasnya.

Sugiono mengingatkan agar forum koordinasi seperti Breakfast Meeting tidak berhenti pada diskusi dan catatan rapat. Setiap persoalan yang dibahas perlu ditindaklanjuti hingga menghasilkan penyelesaian yang manfaatnya benar-benar dirasakan masyarakat.

"Apa yang menjadi pembicaraan di dalam rapat-rapat seperti ini sudah selayaknya tidak berhenti sebagai hasil rapat semata, tidak berhenti sebagai catatan rapat. Kita sepakati bahwa apa yang menjadi catatan tersebut harus kita kerjakan. Yang telah kita kerjakan harus kita tuntaskan, dan yang kita tuntaskan, hasilnya benar-benar dirasakan manfaatnya oleh masyarakat luas," pungkasnya.

Menko PMK Sugiono berharap sinergi Kemenko PMK dan Kemenag semakin kuat dalam mengawal program prioritas Presiden Prabowo, sehingga penguatan kerukunan, pembangunan karakter, transformasi pendidikan, dan perbaikan tata kelola dapat berkontribusi nyata bagi pembangunan manusia Indonesia yang unggul.

Turut hadir dalam kegiatan tersebut, Menteri Agama Nasaruddin Umar, Wakil Menteri Agama Romo Muhammad Syafi’i, Sekretaris Jenderal Kementerian Agama Kamaruddin Amin, serta jajaran pejabat eselon I, staf ahli, staf khusus, tenaga ahli, dan tim penasihat ahli Menteri Agama. Kegiatan ini juga diikuti jajaran Kementerian Agama di seluruh Indonesia.

Kontributor Foto:
Reporter: