Kemenko PMK Buat Kajian Peningkatan SDM dan Kewirausahaan Pemuda Pasca Pandemi di Kabupaten Temanggung

KEMENKO PMK - Kemenko PMK melalui Kedeputian Bidang Koordinasi Peningkatan Kualitas Anak, Perempuan dan Pemuda mengelar Rapat koordinasi Pembahasan Hasil Kajian tentang Peningkatan SDM Berbasis Keluarga, Perempuan, Anak,  dan Upaya Inovatif Kewirausahaan Pemuda Pasca Pandemi di Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah. 

Kajian dilaksanakan oleh tim yang dipimpin oleh Sosiolog Universitas Indonesia Prof. Dr. Paulus Wirutomo, M.Sc dan Dr. Linda Darmajanti, M.T  berlangsung dari tanggal 7 – 10 April 2022 di Desa Wadas, Kec. Kandangan dan 10 – 13 April 2022 di Desa Tanurejo, Kec. Bansari. Teknik Pengumpulan Data yang digunakan dalam proses pembuatan kajian dengan FGD dan Wawancara mendalam. Nantinya hasil dari kajian akan disampaikan ke Kementerian/Lembaga terkait. 

Dalam pembukaannya, Deputi Bidang Koordinasi Peningkatan Kualitas Anak, Perempuan dan Pemuda ; Femmy Eka Kartika Putri mengatakan bahwa Kabupaten Temanggung merupakan kabupaten dengan kasus pernikahan anak yang tinggi. 

“Tingginya angka pernikahan dini yang mencapai ratusan kasus salah satunya menyebabkan angka stunting di Kabupaten Temanggung tinggi," ungkap Femmy dalam Rapat Koordinasi yang dilaksanakan di Jakarta, pada Selasa (19/7).

Salah satu faktor menyebabkan pernikahan dini di Temanggung tinggi adalah masih adanya budaya dijodohkan orang tua karena berbagai alasan.

Menurut Femmy, dengan tingginya kasus pernikahan anak disana merupakan pintu masuk berbagai isu permasalahan yang perlu didalami dan dibuat kajian.  Selain berfokus pada Peningkatan SDM Berbasis Keluarga, Perempuan, Anak, Kajian juga dilakukan untuk mengetahui bagaimana upaya Inovatif Kewirausahaan Pemuda Pasca Pandemi di Kabupaten Temanggung. 

“Kemenko PMK mendorong agar program-program di Kabupaten Temanggung berfokus pada 1000 hari pertama kehidupan sampai lansia untuk menghasilkan sumber daya manusia (SDM) yang unggul”. tutup Femmy. 

Dalam pemaparan hasil kajian, Prof Paulus Wirutomo menjelaskan bahwa temuan di lapangan di kedua desa yang menjadi lokus terlihat bahwa Program Pemerintah untuk memberantas Perkawinan Anak (PA), secara“Struktural” telah dilakukan di setiap pelosok dalam bentuk kebijakan, program dan kelembagaan. Instrumen Struktural terlalu permisif saat berhadapan dengan Kultur yang masih mendukung nilai-nilai yang berbeda. 

Prof Paulus juga menjelaskan bahwa Profesi petani mendorong anak tidak meneruskan sekolah, ini mempertahankan tradisi kawin muda, Apalagi masih ada pamali menolak lamaran, dan tradisi pesta mbakon. Perkawinan menghindarkan perzinahan. 

Di aspek perlindungan anak dan pendidikan anak usia dini, Prof Paulus menyampaikan Walaupun sudah terstruktur, pola asuh PAUD belum diterapkan di Keluarga, belum mengubah tradisi. Dengan kata lain “Menstruktur tapi belum mengkultur”. Selain itu melindungi anak dari kekerasan telah  membudaya di keluarga, tetapi KDRT masih tetap “terlindungi”.

Mengenai peran perempuan, hasil temuan Prof Paulus dan timnya mengatakan bahwa di kalangan generasi baru, tradisi kekerasan mulai berubah. Bagi remaja perempuan, kekerasan sama sekali bukan solusi yang bisa diterima. Tetapi, melaporkan KDRT masih merupakan hal yang tabu dan memalukan. 

Di akhir pemaparannya, Prof Paulus mengatakan bahwa untuk mencegah pernikahan anak usia dini dan meningkatkan SDM, ia merekomendasikan utamakan Pendidikan Masyarakat dan melibatkan tokoh komunitas dalam menyusun modul gabungan. Kemudian meningkatkan peran sekolah, perpustakaan sebagai tempat pendidikan “life skills”. Terakhir utamakan Pendidikan Vokasional untuk mempercepat diferensiasi profesi di Pedesaan

Sementara dalam pemaparan kajian Upaya Inovatif Kewirausahaan Pemuda Pasca Pandemi; Dr. Linda Darmajanti, M.T menjelaskan Akar Permasalahan Pengembangan Kewirausahaan Pemuda di Kabupaten Temanggung antara lain nilai budaya lokal, institusi pendidikan, pemodalan, pemberdayaan wirausaha, pendampingan, dan pelatihan. Menurut Linda, potensi sukses yang dimiliki para wiraswasta di Kabupaten Temanggung sangat terbuka. Hal tersebut dikarenakan SDA lokal, cagar budaya, dan organisasi sosial. 

Seperti diketahui Kabupaten Temanggung memiliki tanaman perkebunan berupa tembakau, vanili, kopi, gula aren, dan kelengkeng. Cagar budaya yang ada juga dapat dikembangkan sebagai tujuan wisata. Serta peningkatan peran organisasi sosial dan komunitas terkait seni, kuliner untuk mendukung pemberdayaan-memperluas pemasaran. (*)

Kontributor Foto:
Reporter: