Kemenko PMK Dorong Mitra dalam Penguatan Ekonomi untuk Orang dengan Tuberkulosis

KEMENKO PMK - Penyakit Tuberkulosis (TBC) yang terjadi di Indonesia menempati peringkat ketiga dunia setelah India dan Cina. Menurut data Global TB Report yang dirilis oleh WHO, terdapat sebesar 824 ribu kasus dengan 8.268 diantaranya merupakan kasus TBC-RO (Resisten Obat). Selain menyerang fisik, psikis, dan sosial, penyakit TBC juga berdampak kepada kondisi ekonomi orang dengan TBC dan keluarganya. Hal ini akibat stigma dan pengobatan TBC yang membutuhkan waktu berbulan-bulan hingga sembuh.

Dalam rangka mengatasi permasalahan tersebut, Wadah Kemitraan Penanggulangan Tuberkulosis (WKPTB) yang diketuai oleh Deputi Bidang Koordinasi Peningkatan Kualitas Kesehatan dan Pembangunan Kependudukan Kemenko PMK mendukung dan mendorong penuh giat “Sosialisasi Pemberdayaan Ekonomi Orang dengan TBC-RO dan Pendamping TBC-RO melalui Pelatihan Pembuatan Telur Asin” yang dilaksanakan pada Jum’at (30/9) di Aula Kelurahan Rawa Bunga Jatinegara, Jakarta. Program ini diselenggarakan oleh Dompet Dhuafa, bekerja sama dengan POP TB (Perkumpulan Organisasi Penyintas TBC) dan PETA (Organisasi Penyintas TBC-RO Cabang Jakarta) yang tergabung dalam bidang mitigasi dampak psikososial dan pemberdayaan ekonomi orang dan keluarga terdampak TBC pada WKPTB. Program ini sekaligus bagian dari aksi PROTEKSI (Program Terpadu Kemitraan Penanggulangan Tuberkulosis) yang menjadi pengejawantahan amanah Peraturan Presiden No. 67 Tahun 2021.

Dalam sambutan, Agus Suprapto selaku Deputi Bidang Koordinasi Peningkatan Kualitas Kesehatan dan Pembangunan Kependudukan, menyampaikan bahwa Kemenko PMK berkomitmen penuh mendukung program pemberdayaan yang dilakukan untuk memulihkan kondisi ekonomi orang dengan TBC dan pendampingnya. Agus berharap program ini dapat dimanfaatkan dengan baik, tidak hanya bagi orang dengan TBC dan penyintas TBC, tetapi juga bagi para keluarga atau pendampingnya.

“Kami berharap kesempatan pelatihan UMKM dapat dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya, agar orang dengan TBC beserta keluarganya bisa segera bangkit kembali, utamanya secara ekonomi, sehingga tidak terjadi drop out pengobatan TBC yang dilakukan,” ujar Agus.

Agus juga berharap kegiatan ini dapat memberikan stimulus bagi munculnya program pemberdayaan ekonomi dalam bentuk lain yang disesuaikan berdasarkan kemampuan yang dimiliki oleh orang dengan TBC dan penyintas. Sekaligus mendorong sejumlah pihak dan sektor terkait untuk turut serta bergerak bersama dalam mengentas masalah ekonomi yang dialami oleh mereka.

Dalam kesempatan yang sama, Elizabeth Ratu Rante Allo selaku Kepala Dinas Perindustrian Koperasi dan UKM Provinsi DKI Jakarta menyampaikan terdapat program “7 PASTI” yang dapat diakses para pelaku pemula UMKM, termasuk orang dengan TBC dan pendampingnya, dimana banyak pelatihan usaha pemula yang disediakan. Ratu menyampaikan agar para peserta kegiatan ini dapat mendaftarkan diri ke JAKPREUNER di Kantor Kecamatan dan akan dibantu oleh fasilitator pendamping lapangan untuk proses lebih lanjut.

Di akhir sesi, Agus menyampaikan ucapan terima kasih kepada segenap jajaran Pemda dan mitra terkait yang turut hadir dan mendukung terlaksananya program pemberdayaan ini, sehingga dapat menjadi contoh di berbagai provinsi lainnya. Pihaknya akan terus mengajak jajaran Pemda untuk memonitor keberlanjutan program, termasuk jika terdapat kendala dalam distribusi pemasaran produk olahan yang dibuat.

“Keberlangsungan program akan terus kami pantau, kami akan mendorong pihak-pihak yang berkepentingan untuk ikut serta membantu mendistribusikan hasil olahan yang telah dibuat, sehingga program ini tidak hanya terhenti di pelatihan saja. Sesuai informasi Bu Kadis Provinsi DKI Jakarta, para peserta dapat mendaftarkan diri ke JAKPREUNER agar dapat memudahkan proses pendaftaran UMKM dan pemasarannya,” tegas Agus.

Kegiatan ini diikuti oleh total  15 orang dengan TBC-RO dan pendamping orang dengan TBC-RO terpilih dari sejumlah wilayah DKI Jakarta yang telah memenuhi kriteria yang ditetapkan. Diundang juga beberapa narasumber, fasilitator, dan observer dari produsen telur asin, POP TB Indonesia, Dompet Dhuafa, dan Organisasi Penyintas TBC-RO, serta segenap jajaran pemerintahan terkait, yakni Kemenkes, Kemnaker, dan OPD Provinsi DKI Jakarta.

Kontributor Foto:
Reporter: