Menko PMK Minta Santri Madrasah Mu'allimin Muhammadiyah Yogyakarta Ikut Serta Membangun Bangsa

Jakarta (1/11) -- Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Muhadjir Effendy meminta kepada seluruh santri Madrasah Mu'allimin Muhammadiyah Yogyakarta untuk ikut berkontribusi membangun Bangsa Indonesia.

Madrasah Mu'allimin punya sejarah panjang sebagai salah satu lembaga pendidikan tertua di Indonesia. Madrasah Mu'allimin didirikan langsung oleh pendiri Muhammadiyah, yakni KH Ahmad Dahlan pada tahun 1918. 

Karena itu, Muhadjir yang juga merupakan Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah Bidang Pendidikan dan Kebudayaan meminta agar para santri Madrasah Mu'allimin bisa meneladani kiprah KH Ahmad Dahlan membangun bangsa, khususnya dalam dunia pendidikan. 

"Saya mohon apa yang telah dilakukan Kiyai Dahlan harus bisa diterjemahkan ke dalam Mualimin. Keseimbangan antara ilmu keagamaan dan ilmu umum. Itu harus betul-betul diseimbangkan," ujar dia saat menjadi narasumber secara daring dalam Studium Generale Siswa Madrasah Mu'allimin Muhammadiyah Yogyakarta Tahun Pelajaran 2020/2021, pada Minggu (1/11).

Muhadjir berpesan kepada para ustadz, ustadah, dan pengurus Madrasah Mu'allimin untuk membimbing para santri agar menguasai ilmu agama dan ilmu keduniaan seperti ilmu sains, teknologi, engineering, matematik serta ilmu sosial.

"Jadi ini mohon dilakukan untuk menjaga agar lulusan mualimin seimbang. Antara ilmu islam dan ilmu keduniawian itu," pesannya.

Muhadjir mengaku optimis Madrasah Mualimin akan berkiprah lebih besar dan lebih bermakna bagi kepentingan Muhammadiyah, serta dalam lingkup luas menciptakan kader pemimpin bangsa. 

Muhadjir juga berpesan kepada para santri agar memiliki tidak takut memiliki mimpi besar dan cita-cita yang besar ujtuk memajukan Bangsa Indonesia.

"Marilah kita ciptakan Jenderal Sudirman baru, Bung Karno baru, Pak Harto baru yang semuanya dalam hal positif untuk membangun Indonesia kedepan, dan mereka bibit dari Sekolah Muhammadiyah yaitu mereka para siswa ataupun para guru," pungkas dia.

Reporter: