KEMENKO PMK – Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Pratikno menunjukkan kenyataan tentang banyaknya jenis pekerjaan yang hilang, pekerjaan yang harus dilakukan secara berbeda, dan banyak pekerjaan baru yang timbul. Kita juga jangan hanya sebagai pengguna teknologi, tetapi juga pengembang teknologi. Oleh karena itu, Menko PMK menekankan pentingnya perguruan tinggi beradaptasi dengan perubahan dunia kerja, perkembangan teknologi, serta kebutuhan kompetensi generasi muda.
Hal tersebut disampaikan Menko PMK saat menghadiri kegiatan Pengenalan Kehidupan Kampus bagi Mahasiswa Baru (PKKMB) sekaligus meresmikan gedung baru Cakrawala University Kampus Sudirman, Jakarta Selatan, pada Jumat (4/9/2026).
Dalam kesempatan tersebut, Pratikno mengapresiasi upaya perguruan tinggi untuk mengembangkan pendekatan pendidikan yang lebih adaptif terhadap perubahan. Menurutnya, keberanian untuk mengeksplorasi pendekatan baru diperlukan agar pendidikan tinggi dapat terus berkontribusi dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia Indonesia.
“Apresiasi kepada Cakrawala University yang sudah berinovasi, out of the box, dengan ide-ide dan terobosan yang baru dalam membangun ekosistem kampus,” ujar Pratikno.
Pratikno kemudian mengibaratkan posisi perguruan tinggi yang hadir belakangan dengan konsep latecomer atau pendatang baru. Menurutnya, datang belakangan tidak selalu berarti tertinggal. Justru, posisi tersebut dapat menjadi kesempatan untuk melihat kembali sistem yang telah ada dan mencari pendekatan yang lebih sesuai dengan kebutuhan zaman.
Dalam konteks tersebut, sejumlah perguruan tinggi mulai mengembangkan model pendidikan yang lebih dekat dengan kebutuhan dunia kerja. Salah satunya melalui pembelajaran berbasis pengalaman, magang, maupun proyek nyata yang memungkinkan mahasiswa membangun kompetensi dan portofolio sejak masa pendidikan.
Perubahan kebutuhan kompetensi tersebut semakin relevan di tengah disrupsi yang terjadi pada lanskap pekerjaan global. Sejumlah jenis pekerjaan mengalami perubahan, sementara sebagian lainnya berpotensi berkurang seiring berkembangnya teknologi. Kondisi ini, menurut Pratikno, perlu menjadi perhatian mahasiswa dalam menentukan arah pengembangan diri selama menempuh pendidikan tinggi.
“Saya senang Cakrawala University bukan hanya kampus yang menjadi tempat untuk menunggu bekerja, tetapi telah menjadi tempat tumbuh dari awal memulai bekerja. Saya yakin Anda semua punya ruang tumbuh yang luar biasa di sini. Saya senang mendengar bahwa mahasiswa sudah ada yang mulai bekerja,” imbuhnya.
Perkembangan kecerdasan buatan juga menjadi salah satu faktor yang mendorong perubahan tersebut. Integrasi AI dan teknologi dalam proses pembelajaran dinilai perlu diikuti dengan penguatan kemampuan manusia, termasuk kemampuan berpikir kritis, beradaptasi, berkolaborasi, serta menggunakan teknologi secara bertanggung jawab.
Pratikno mengingatkan bahwa penguasaan teknologi semakin menjadi bagian penting dari kesiapan generasi muda menghadapi masa depan. Menurutnya, tantangan utama bukan semata-mata keberadaan teknologi, melainkan kemampuan manusia untuk beradaptasi dan memanfaatkannya secara tepat, serta mengembangkan teknologi yang relevan.
Oleh karena itu, Pratikno berpesan kepada mahasiswa agar terus membangun kapasitas diri, menjaga semangat belajar, dan memperluas jejaring sebagai bagian dari persiapan menghadapi perubahan yang akan terus berlangsung.
“Kita tidak bisa hindari, AI adalah revolusi besar dalam sejarah peradaban manusia. Bijak dan cerdaslah dalam menggunakan teknologi, harus kembali kepada manusia, dengan menggunakannya dengan nurani untuk kemanfaatkan kehidupan yang adil dan beradab,” pungkasnya.