Temu Inklusi #4 Daring 2020 Siap Digelar

Jakarta (2/9) -- Keberpihakan regulasi meskipun belum begitu memuaskan, meningkatnya dialog antara kelompok disabilitas dengan pemerintah, penganggaran daerah yang mulai responsif, dan manajemen perencanaan pembangunan yang mulai sesuai dengan kebutuhan penyandang disabilitas, merupakan beberapa catatan penting yang harus diapresiasi serta perlu terus diperluas.

Beberapa capaian tadi, dari sisi kebijakan, praktik, inovasi maupun mobilisasi sumberdaya dalam mendorong pemenuhan hak serta inklusi difabel, nyatanya masih berhadapan dengan banyak gap dan tantangan yang harus diperhitungkan.

Asisten Deputi Pemberdayaan Disabilitas dan Lanjut Usia Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Kemenko PMK) Togap Simangunsong menjelaskan bahwa tantangan terbesar yaitu masih dirasakannya ketimpangan kesempatan maupun penikmatan hasil pembangunan bagi difabel dan kelompok rentan atau minoritas lainnya.

"Tantangan itu juga ditambah lagi dengan rendahnya angka warga difabel yang mengenyam pendidikan dan mengakses lapangan kerja, tertundanya pengesahaan peraturan-peraturan pemerintah yang menopang pemenuhan hak-hak difabel, serta data disabilitas yang belum komprehensif merupakan sebagian kondisi yang perlu dipertimbangkan untuk diretas dan diatasi," tuturnya.

Pertemuan semacam Temu Inklusi selama ini dan sudah terselenggara mulai tahun 2014, 2016, dan 2018, serta yang akan terjadi di tahun 2020 ini, telah dan masih akan berupaya memberikan kontribusi pada upaya mengatasi tantangan besar tadi.

Menurut Togap, forum rutin dua tahunan itu terus menggali dan membagikan solusi-solusi lokal, serta inovasi dalam meminimalisir hambatan dan mempromosikan terwujudnya masyarakat yang inklusif.

Sadar bahwa mewujudkan masyarakat inklusif membutuhkan kolaborasi lintas disiplin, praktisi, pembuat kebijakan, aktor pembangunan masyarakat, pelaku bisnis dan usaha, serta aktor-aktor lain, Temu Inklusi akan memfasilitasi dialog yang bertujuan menggalang pertukaran gagasan, menguatkan jejaring dan kerja sama, serta menyepakati agenda-agenda strategis.

"Maka, sepanjang September hingga Desember mendatang, gelaran Temu Inklusi akan kembali terselenggara. Namun, demi merespon kondisi terkini berkaitan dengan mewabahnya covid-19 yang diperkirakan masih akan terus berlanjut, maka digagas agar Temu Inklusi 2020 menjadi acara berbasis daring," ungkapnya.

Dengan demikian, terselenggaranya kegiatan itu dipastikan akan tetap menggandeng para mitra baik pemerintah maupun non-pemerintah, yang selama ini sudah terlibat dalam persiapan Temu Inklusi #4 Daring 2020.

Menurut rencana, kegiatan akan berupa 1-2 kali seminar setiap bulan dan minimal 2 diskusi tematik.
Temu Inklusi #4 akan dilakukan melalui metode Daring/daring menggunakan media website, aplikasi telekonferensi, dan YouTube Channel Solider dan akan mengusung tema: “Dari Praktik ke Kebijakan: Memajukan Inisistif, Karakter dan Budaya Menuju Indonesia Inklusif 2030.”

Temu inklusi #4 itu akan dihadiri oleh para peserta yang berasal dari semua kalangan baik pemerintah, organisasi disabilitas, penegak hukum, akademisi, parlemen, dunia usaha, budayawan, dan masyarakat sipil.

Kontributor Foto:
Editor :
Reporter: