Peran Pemuda Harus Dioptimalkan Dalam Hadapi Bonus Demografi

KEMENKO PMK - Pemuda merupakan bagian terpenting dari sumber daya manusia (SDM) di Indonesia. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik 2021, jumlah pemuda saat ini sekitar 64,90 juta jiwa atau 23,90% dari total jumlah penduduk Indonesia.

Namun demikian, persoalan pemuda juga kerap masih menjadi tantangan yang harus segera diatasi agar Indonesia benar-benar mampu memanfaatkan bonus demografi yang sudah terjadi sejak tahun 2012 dan akan mencapai puncaknya pada tahun 2030 mendatang. 

“Peran aktif pemuda harus dioptimalkan untuk hadapi bonus demografi. Kalau masalah kepemudaan tidak kita tangani segera, maka nanti saat masa mudanya lewat kita tidak bisa membangun Indonesia maju,” jelas Deputi Bidang Koordinasi Peningkatan Kualitas Anak, Perempuan, dan Pemuda Kemenko PMK Femmy Eka Kartika Putri saat menjadi Keynote speech dalam Kick Off Meeting Penguatan Koordinasi Kebijakan Pencegahan Perilaku Berisiko pada Pemuda Tahun 2022 secara virtual, Selasa (29/3).

Sebagai upaya untuk mengoptimalkan peran pemuda, pencegahan perilaku beresiko pada pemuda harus disinergikan bersama karena pemuda akan menjadi tumpuan bagi bangsa Indonesia. 

Femmy menyebutkan beberapa di antara perilaku berisiko pada pemuda yaitu pornografi dan pornoaksi termasuk perilaku seks, HIV/AIDS, serta perdagangan manusia. Penurunan kualitas atau dekadensi moral, kekerasan, perundungan, dan konflik sosial. Di samping itu, penyalahgunaan narkotika, psikotropika, dan zat adiktif lainnya , serta minuman keras.

“Kita tahu perilaku berisiko pada pemuda masih banyak terjadi di masyarakat dan cukup memprihatinkan. Oleh karena itu, Kita harus memperkuat koordinasi kebijakan lintas sektor, pemetaan program kegiatan antar K/L, dan membangun komunikasi dan Kolaborasi, karena kita tidak bisa bekerja sendiri,” tuturnya.

Lanjut Femmy, Pihak terkait juga harus menyususn strategi koordinasi dan sinkronisasi sehingga membentuk kesepakatan bersama antar pemangku kepentingan untuk memperkuat kolaborasi pelaksanaan kebijakan pencegahan perilaku berisiko pada pemuda.

“Kami tau betul bahwa semua K/L apalagi yang terkait dengan SDM memiliki program yang terkait dengan pemuda. Karena tidak hanya kesehatan tapi juga aspek lain harus dipenuhi supaya mereka bisa jadi SDM produktif dan berdaya saing,” ujar Femmy.

Dalam siklus pembangunan manusia, ungkap Femmy, pemuda usia 16-30 dipastikan mendapat hak dan perlindungan. Baik pendidikan maupun pekerjaan.

“Pemuda harus mendapatkan layanan pendidikan, mulai dari SD-SMP-SMA. Pemerintah juga sudah menyediakan bagi anak muda yg berprestasi di perguruan tinggi maupun vokasi. Tidak mungkin pemuda dibiarkan menjadi SDM dengan kategori tidak bekerja tidak dalam mengikuti pendidikan ataupun pekerjaan,” jelasnya.

Dengan diselenggarakannya acara kick off meeting ini, Femmy berharap bisa memberikan masukan dan sinergitas untuk menciptakan pemuda yang sehat, berpendidikan, Berkarakter dan dapat melahirkan generasi berkualitas.

“ini memang bukan pertemuan pertama dan terakhir tapi kita akan bersinergi bersama duduk bersama baik offline maupun online untuk mengurangi isu kepemudaan atau menurunkan menangani masalah kepemudaan,” tutupnya.

Dalam Acara tersebut hadir sebagai narasumber, Direktur Kesehatan Reproduksi BKKBN Safrina Salim, Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Langsung Kemenkes Didik Budijanto, Direktur Edukasi dan Informasi BNN Iman Sumantri, Koordinator  Bidang Peserta Didik Direktorat SMA Juandanilsyah, Presiden CIMSA Indonesia 2021-2022 Syaogy Ahmed Azizy, dan Sekretaris Deputi Bidang Pemberdayaan Pemuda Kemenpora Esa Sukmawijaya.

Kontributor Foto:
Reporter: