Perkuat Peran Keluarga dalam Program Integrasi Lansia

Jakarta (27/5) -- Indonesia secara perlahan menuju menjadi negara yang menua. Data statistik UN Desa memperkirakan pada tahun 2020, sekitar 10% penduduk Indonesia akan berusia 60 tahun ke atas dan bertambah menjadi sekitar 13% pada 2030. Sedangkan di 2050, kurang lebih 21,1% atau sekitar 1 dari 5 orang penduduk Indonesia akan memasuki lanjut usia.

Mengantisipasi hal tersebut, pemerintah telah memiliki strategi nasional kelanjutusiaan 2018-2025 dengan visi menjadikan lansia mandiri, sejahtera, dan bermartabat.

Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Muhadjir Effendy mengatakan bahwa lansia merupakan kelompok dalam siklus kehidupan yang memiliki kerentanan cukup tinggi. Tantangan yang umum dihadapi lansia ialah terkait guncangan ekonomi, bencana alam, isu kesehatan, dan disabilitas.

"Masalah kelanjutusiaan adalah tanggung jawab kita bersama, terutama keluarga. Sebab dukungan keluargalah yang paling penting dalam mendukung lansia agar tetap mandiri baik dalam aspek sosial maupun ekonomi," ujarnya saat menjadi narasumber Diskusi Hari Lanjut Usia Nasional yang diadakan Majelis Pelayanan Sosial PP Muhammadiyah melalui video conference, Kamis (27/5).

Sejauh ini, ungkap Muhadjir, lansia umumnya tidak mau bergantung hidup pada anak-anaknya apalagi menjadi beban keluarga. Mereka ingin memiliki pendapatan sendiri dan membuat keputusan ekonomi sendiri.

Pemerintah dalam hal ini pun terus berupaya mendorong lansia untuk tetap produktif, mampu hidup mandiri, sehat, dan bahagia di tengah-tengah keluarga. Salah satunya melalui program kelanjutusiaan terintegrasi berbasis komunitas.

"Program itu sudah kita jalankan untuk pilot project di beberapa wilayah, seperti DKI Jakarta, Yogyakarta, dan Denpasar. Sebagaiman tema diskusi kita yaitu Inklusi Pemenuhan Layanan Lansia Terintegrasi: Aspek Sosial, Ekonomi, Hukum, dan Spiritual. Semuanya harus seiring sejalan," pungkas Menko PMK.

Kontributor Foto:
Reporter: