KEMENKO PMK – Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Kemenko PMK) terus memperkuat budaya ketangguhan masyarakat dan kolaborasi multipihak melalui implementasi program unggulan KITA TANGGUH di daerah rawan bencana.
Langkah nyata tersebut diwujudkan melalui kolaborasi bersama UN Women dan PT PLN (Persero) dengan mengimplementasikan model KITA TANGGUH: Perempuan Tangguh di Desa Sidera, Kecamatan Sigi Biromaru, Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah, yang berlangsung sejak 30 September hingga 3 Oktober 2026.
Pemilihan Kabupaten Sigi sebagai proyek percontohan didasari oleh tingginya tingkat kerentanan wilayah tersebut terhadap berbagai ancaman bencana, mulai dari gempa bumi, banjir, angin puting beliung, hingga cuaca ekstrem dan kekeringan.
Berdasarkan kajian strategis, kelembagaan dan sistem kesiapsiagaan di Desa Sidera masih perlu diperkuat mengingat belum terbentuknya Forum Pengurangan Risiko Bencana, belum optimalnya partisipasi perempuan dan penyandang disabilitas, serta minimnya ketersediaan peta risiko maupun jalur evakuasi.
Merespons kondisi tersebut, Asisten Deputi Pengurangan Risiko Bencana Kemenko PMK Andre Notohamijoyo menegaskan bahwa sinergi lintas sektor ini merupakan kunci utama dalam membangun ketahanan masyarakat dari tingkat tapak.
"Kolaborasi antara Kemenko PMK dengan PT Perusahaan Listrik Negara (Persero) dan UN Women merupakan wujud kolaborasi tangguh sebagai bagian tak terpisahkan dari program KITA TANGGUH," ujar Andre.
Ia menjelaskan bahwa intervensi di tingkat desa ini turut diselaraskan dengan komitmen badan usaha milik negara guna memastikan program dapat berjalan komprehensif, inklusif, dan berkelanjutan.
"Langkah Kemenko PMK ini juga untuk mengintegrasikan model KITA TANGGUH dengan program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) PLN, khususnya Program Desa Tanggap Bencana yang inklusif dan berkelanjutan. Literasi bencana sangat penting untuk memperkuat kapasitas masyarakat dalam pengurangan risiko bencana," tambahnya.
Sejalan dengan hal itu, perwakilan PT PLN memaparkan bahwa program di Desa Sidera akan dilaksanakan selama kurang lebih 12 bulan melalui enam intervensi utama. Keenam langkah tersebut mencakup pembentukan Kelompok Siaga Bencana yang inklusif, penyusunan prosedur operasi standar (SOP) tanggap darurat, penguatan kepemimpinan perempuan, penyusunan peta risiko dan jalur evakuasi, pelaksanaan simulasi bencana, serta dorongan terhadap pertanian tangguh dan pengelolaan air bersih.
Sementara itu, perwakilan dari UN Women memastikan bahwa kolaborasi trilateral ini akan terus diperkuat ke depannya. Sinergi ini ditargetkan mampu menambah cakupan desa yang mendapatkan peningkatan kapasitas pengurangan risiko bencana secara inklusif dengan mengedepankan peran dan kepemimpinan perempuan.