Kemenko PMK Matangkan Persiapan Kerja Sama Penguatan Budaya Tangguh Bencana di Yogyakarta

KEMENKO PMKKementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Kemenko PMK) menggelar Rapat Koordinasi Persiapan Kerja Sama dengan mitra pembangunan dalam rangka penguatan budaya tangguh bencana serta persiapan peringatan 20 tahun Gempa Yogyakarta pada 6 Februari 2026. Rapat dipimpin Asisten Deputi Pengurangan Risiko Bencana Kemenko PMK, Andre Notohamijoyo, dan dihadiri perwakilan PT Taman Wisata Candi Borobudur, Prambanan, dan Ratu Boko (InJourney Group), Institut Seni Indonesia Yogyakarta, serta Badan Penanggulangan Bencana Daerah Daerah Istimewa Yogyakarta.

Pertemuan membahas sinergi multipihak untuk memperkuat pengurangan risiko bencana di Daerah Istimewa Yogyakarta sekaligus membangun kembali memori kolektif masyarakat menjelang dua dekade peristiwa gempa 27 Mei 2006. Momentum tersebut dinilai penting sebagai refleksi sekaligus penguatan kesiapsiagaan, mengingat Yogyakarta berada di kawasan rawan gempa akibat keberadaan Sesar Opak dan berhadapan langsung dengan zona megathrust Samudra Hindia.

Dalam arahannya, Andre menegaskan bahwa penanggulangan bencana memerlukan kolaborasi lintas sektor, mulai dari pemerintah, perguruan tinggi, dunia usaha, komunitas, hingga masyarakat luas. Melalui inisiatif “Kita Tangguh”, Kemenko PMK mendorong penguatan budaya tangguh bencana, kolaborasi lintas sektor, serta pengembangan dashboard informasi kebencanaan sebagai instrumen pengendalian risiko secara terintegrasi.

Program “Kita Tangguh” dirancang untuk meningkatkan kesadaran, pengetahuan, dan kapasitas masyarakat melalui pelatihan berkelanjutan dengan target melahirkan para mitigator dari berbagai elemen, seperti ASN, relawan, guru, mahasiswa, dan komunitas lokal. Peserta pelatihan akan dibekali modul kebencanaan dan sertifikasi, serta dipetakan dalam sistem informasi untuk memperkuat jejaring kesiapsiagaan berbasis wilayah.

PT Taman Wisata Candi sebagai bagian dari InJourney menyatakan komitmennya mendukung kolaborasi melalui program tanggap bencana berbasis tanggung jawab sosial perusahaan (CSR), termasuk edukasi kesiapsiagaan bagi pelajar di wilayah sekitar Sesar Opak. Program tersebut telah diuji coba di sejumlah sekolah di Bantul dan direncanakan untuk diperluas.

Sementara itu, ISI Yogyakarta menekankan pentingnya pendekatan kebudayaan dalam membangun ketangguhan masyarakat. Pengalaman terdampak gempa 2006 menjadi pijakan untuk terus mengedukasi generasi muda mengenai kesiapsiagaan dan mitigasi risiko bencana.

Rapat ini menjadi langkah awal penyusunan rencana aksi bersama yang akan dilaksanakan mulai Maret 2026 hingga puncak peringatan 27 Mei 2026. Kemenko PMK menegaskan bahwa penguatan budaya tangguh bencana merupakan bagian integral dari agenda pembangunan nasional 2025–2029 guna memastikan pembangunan berjalan selaras dengan upaya pengurangan risiko bencana dan perlindungan masyarakat secara menyeluruh.

 
Kontributor Foto:
Reporter: