Kemenko PMK Gandeng Leiden University, Perkuat Memori Kolektif dan Literasi Kebencanaan di Indonesia

KEMENKO PMK – Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Kemenko PMK) melakukan pertemuan dengan perwakilan Leiden University untuk menjajaki penguatan kolaborasi riset dan pengetahuan di bidang kebencanaan, khususnya terkait ketangguhan, memori kolektif, perubahan iklim, dan pengembangan kebijakan berbasis riset, Senin (31/8/2026).

Pertemuan tersebut membahas pentingnya penguatan kolaborasi antara pemerintah dan perguruan tinggi dalam menghadapi kompleksitas risiko bencana di Indonesia. Kemenko PMK menekankan bahwa pengurangan risiko bencana tidak hanya berkaitan dengan aspek teknis, tetapi juga mencakup penguatan edukasi, literasi, ketangguhan masyarakat, serta keterlibatan multipihak melalui pendekatan pentahelix.

Asisten Deputi Pengurangan Risiko Bencana Kemenko PMK, Andre Notohamijoyo, menyampaikan bahwa salah satu tantangan yang perlu diperkuat adalah pembangunan memori kolektif masyarakat terhadap sejarah kebencanaan. Memori tersebut penting agar pengalaman dan pengetahuan mengenai bencana tidak terputus antargenerasi dan dapat menjadi bagian dari upaya membangun kesiapsiagaan masyarakat.

Dalam pembahasan tersebut, Kemenko PMK juga menyoroti pentingnya pengembangan literasi kebencanaan melalui pendidikan serta pemanfaatan sejarah dan pengetahuan masa lalu sebagai bahan pembelajaran. Salah satu contoh yang disampaikan adalah penguatan Satuan Pendidikan Aman Bencana (SPAB) di wilayah yang memiliki tingkat risiko tinggi, termasuk upaya membangun kembali memori kolektif atas gempa Yogyakarta tahun 2006 melalui pendidikan, simulasi kebencanaan, serta penguatan jalur evakuasi.

Leiden University dinilai memiliki potensi untuk berkontribusi melalui kepakaran, pengetahuan, data, dan koleksi historis yang berkaitan dengan Indonesia. Dalam pertemuan tersebut dibahas peluang berbagi pengetahuan antara para ahli sejarah, ilmu lingkungan, dan bidang lainnya, termasuk pemanfaatan catatan historis mengenai bencana di Indonesia sebagai sumber pembelajaran untuk memperkuat memori kebencanaan masyarakat.

Selain memori kolektif, pembahasan juga mengarah pada peluang pengembangan riset bersama mengenai isu lingkungan, perubahan iklim, dan ketangguhan. Salah satu topik yang mengemuka adalah kondisi lingkungan di Sumatera pascabencana, termasuk keterkaitan antara perubahan ekosistem, deforestasi, dan peningkatan risiko bencana. Kemenko PMK melihat bahwa kajian tersebut perlu dikembangkan lebih mendalam melalui kolaborasi dengan perguruan tinggi dan mitra penelitian, sehingga dapat menghasilkan pengetahuan yang relevan bagi proses pemulihan dan penguatan ketangguhan.

Perwakilan Leiden University menjelaskan bahwa pendekatan multidisiplin menjadi salah satu kekuatan dalam pengembangan riset, dengan menggabungkan perspektif teknis, sosial, budaya, lingkungan, hukum, dan bidang lainnya. Pendekatan tersebut dinilai penting karena tantangan kebencanaan dan keberlanjutan tidak dapat diselesaikan melalui satu disiplin ilmu saja. Leiden University juga menyampaikan pengalaman pengembangan riset yang menghubungkan akademisi dengan pemerintah dan masyarakat lokal agar hasil penelitian dapat memberikan dampak nyata di lapangan.

Untuk mendorong kerja sama yang lebih konkret, kedua pihak membahas perlunya mengidentifikasi isu dan kebutuhan prioritas secara lebih spesifik, kemudian memetakan kepakaran serta sumber daya yang tersedia. Salah satu bentuk tindak lanjut yang dibahas adalah penyelenggaraan *expert meeting*, baik secara daring maupun luring, untuk mempertemukan para ahli, mengidentifikasi isu prioritas, serta menyusun arah atau roadmap bagi riset bersama dan pertukaran informasi.

Kemenko PMK dan Leiden University mendorong agar kolaborasi yang dibangun tidak berhenti pada pertukaran pengetahuan atau hasil penelitian, tetapi dapat menjembatani temuan akademik dengan kebutuhan kebijakan dan implementasi di lapangan. Sinergi antara pemerintah, perguruan tinggi, masyarakat, dan pemangku kepentingan lainnya diharapkan dapat memperkuat basis pengetahuan dalam pengurangan risiko bencana sekaligus mendukung pembangunan ketangguhan masyarakat secara berkelanjutan.

Kontributor Foto:
Reporter: