KEMENKO PMK -- Asisten Deputi Penanganan Bencana Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Kemenko PMK) Merry Efriana menegaskan pentingnya penguatan aksi dini sebagai bagian dari transformasi tata kelola penanggulangan bencana nasional agar lebih responsif, terukur, dan berdampak nyata bagi masyarakat.
Hal tersebut disampaikannya saat menerima audiensi dari World Food Programme (WFP) dalam rangka membahas rencana kerja sama tahun 2026, pada Senin (2/3/2026), di Ruang Rapat Lantai 14 Kemenko PMK.
“Kita bergerak lebih cepat sebelum risiko berkembang menjadi dampak yang lebih besar, dengan memastikan setiap peringatan dini langsung ditindaklanjuti melalui langkah yang konkret, terukur, dan tepat sasaran. AMPD kita dorong menjadi budaya kerja bersama yang dijalankan secara konsisten, sehingga benar-benar menghadirkan perlindungan nyata bagi masyarakat," tegas Merry.
Audiensi ini menegaskan komitmen bersama untuk memperkuat implementasi Aksi Merespon Peringatan Dini (AMPD) melalui penguatan sinergi kebijakan, dukungan implementasi di daerah, serta pengembangan langkah kolaboratif yang lebih terintegrasi.
Merry menambahkan, kolaborasi dengan WFP diharapkan dapat semakin memperkuat kapasitas pemerintah, khususnya di daerah, agar lebih siap, sigap, dan terkoordinasi dalam menghadapi potensi risiko bencana.
"Kerja sama ini bukan sekadar program tahunan, tetapi bagian dari upaya membangun sistem yang lebih tangguh. Kita ingin memastikan bahwa intervensi yang dilakukan benar-benar tepat sasaran, terukur, dan memberikan perlindungan maksimal bagi masyarakat,” tambahnya.
Pertemuan tersebut juga menyepakati tindak lanjut melalui penyusunan kerangka kerja sama yang lebih sistematis dan pertemuan lanjutan guna mematangkan rencana kegiatan tahun 2026.
Melalui kolaborasi yang semakin erat, Kemenko PMK mendorong agar pendekatan aksi dini semakin terinternalisasi dalam sistem penanggulangan bencana nasional, sehingga risiko dapat ditekan dan masyarakat terlindungi sebelum dampak terjadi.