KEMENKO PMK – Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Kemenko PMK) terus memperkuat komitmen dalam membangun ketangguhan bencana di tingkat tapak.
Hal ini ditegaskan melalui dukungan Deputi Bidang Koordinasi Penanggulangan Bencana dan Konflik Sosial yang dalam hal ini diwakilkan oleh Asisten Deputi Pengurangan Risiko Bencana Kemenko PMK, Andre Notohamijoyo, dalam acara peresmian alat Sistem Peringatan Dini Banjir atau Early Warning System (EWS) di Desa Bojong Kulur, Kecamatan Gunungputri, Kabupaten Bogor, pada Rabu (15/4/2026).
Pemasangan alat deteksi dini yang mampu membaca curah hujan dan debit air secara real-time ini merupakan hibah dari Group Executive Director AIM Analytics Malaysia. Peresmian dilakukan langsung oleh Wakil Menteri Pekerjaan Umum (Wamen PU) Diana Kusumastuti, didampingi oleh Group Executive Director AIM Analytics Malaysia, Mr. Ir. Ts. Reneir Tara.
Agenda ini juga turut dihadiri oleh Asisten Daerah (Asda) yang mewakili Bupati Bogor, Camat Gunung Putri, perwakilan dari BNPB, BPBD Provinsi Jawa Barat, BPBD Kota Bekasi, BPBD Kabupaten Bogor dan Bekasi, serta para relawan dari Komunitas Peduli Sungai Cileungsi Cikeas (KP2C).
Asisten Deputi Pengurangan Risiko Bencana Kemenko PMK Andre Notohamijoyo menyampaikan bahwa kehadiran teknologi ini merupakan bentuk nyata dukungan internasional dan kolaborasi multipihak dalam menciptakan resiliensi komunitas.
"Pemerintah sangat mengapresiasi hibah dari AIM Analytics Malaysia. Langkah ini sejalan dengan visi Kemenko PMK untuk memastikan masyarakat di wilayah rawan memiliki kesiapsiagaan mandiri. Dengan data yang akurat, warga memiliki golden time yang lebih panjang untuk melakukan evakuasi," ujar Andre.
Kemenko PMK menekankan pentingnya sinergi antara teknologi mutakhir dengan kekuatan relawan lokal. Ia memuji peran aktif relawan KP2C yang selama ini menjadi garda terdepan dalam menginformasikan risiko banjir kepada ribuan warga di sepanjang aliran sungai Cileungsi dan Cikeas. Alat ini akan menjadi "mata dan telinga" baru bagi komunitas dalam memitigasi dampak bencana hidrometeorologi.
Alat EWS yang diresmikan ini memiliki keunggulan dalam mengintegrasikan sensor curah hujan di hulu dengan sensor elevasi air sungai. Informasi yang tertangkap oleh sensor tersebut akan terkirim secara otomatis ke sistem informasi kebencanaan dan perangkat seluler pengurus komunitas, sehingga peringatan dini dapat disebarluaskan dalam hitungan detik.
Dalam fungsi Koordinasi, Sinkronisasi, dan Pengendalian (KSP), Kemenko PMK berharap kolaborasi antara pemerintah pusat melalui Kementerian PU, sektor swasta internasional, pemerintah daerah, dan komunitas masyarakat ini dapat menjadi percontohan bagi daerah lain di Indonesia. Penguatan mitigasi bencana berbasis komunitas tetap menjadi prioritas nasional guna meminimalisir risiko korban jiwa dan kerugian harta benda di masa depan.