Kemenko PMK dan ISI Yogyakarta Dorong Budaya Tangguh Bencana pada Peringatan 20 Tahun Gempa Yogyakarta

KEMENKO PMK -- Asisten Deputi Pengurangan Risiko Bencana Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Kemenko PMK) Andre Notohamijoyo menegaskan pentingnya penguatan budaya dan kearifan lokal sebagai fondasi membangun kesiapsiagaan masyarakat dalam menghadapi bencana.

Hal tersebut disampaikan Andre dalam kegiatan diskusi panel bertema “Peran Budaya dalam Membangun Ketangguhan Bencana pada Masyarakat” yang diselenggarakan Kemenko PMK bersama Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta dalam rangka Peringatan 20 Tahun Gempa Yogyakarta, di Fakultas Seni Media Rekam ISI Yogyakarta, Kamis (8/5/2026).

Dalam sambutannya, Andre Notohamijoyo menyampaikan bahwa pengurangan risiko bencana tidak hanya dilakukan melalui pembangunan fisik dan teknologi, tetapi juga perlu diperkuat melalui pendekatan budaya yang hidup dan dipahami masyarakat.

"Salah satu bentuk kearifan lokal tercermin dalam Sumbu Filosofi Yogyakarta yang merepresentasikan tata ruang berbasis mitigasi bencana dan telah ditetapkan sebagai Warisan Dunia UNESCO pada tahun 2023," ujarnya.

Kegiatan diskusi dibuka oleh Rektor ISI Yogyakarta Irwandi. Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya memperkuat pengurangan risiko bencana melalui pendekatan budaya, seni, dan kearifan lokal guna membangun ketangguhan masyarakat secara berkelanjutan.

Diskusi panel menghadirkan sejumlah narasumber dari berbagai latar belakang keilmuan dan seni. Guru Besar Universitas Pertahanan sekaligus pakar sosiologi kebencanaan Prof. Dr. Syamsul Maarif membahas tema "Literasi dan Local Wisdom Kebencanaan". Budayawan Mikke Susanto memaparkan materi mengenai "Peran Seni dalam Kesadaran, Pemulihan, dan Transformasi Sosial", sementara perupa Endang Lestari menjelaskan peran seni sebagai seismograf kultural melalui seri karya Geology of Memories.

Pada sesi penutup, Asdep Andre kembali menekankan pentingnya menjadikan pengurangan risiko bencana sebagai bagian dari budaya hidup masyarakat melalui penguatan seni, budaya, dan ruang edukasi publik. Ia juga menyoroti pentingnya membangun kesiapsiagaan secara simbolis dan kolektif di lingkungan pendidikan dan kebudayaan, termasuk di Institut Seni Indonesia Yogyakarta.

Kegiatan ditutup dengan penanaman pohon secara simbolis yang dihadiri Asisten Deputi Pengurangan Risiko Bencana Kemenko PMK, jajaran ISI Yogyakarta, serta para narasumber sebagai bentuk komitmen bersama dalam membangun budaya sadar bencana dan memperkuat ketangguhan masyarakat.

Kontributor Foto:
Reporter: