Pemerintah Siapkan Model Pemberdayaan Penyandang Disabilitas Berbasis Wirausaha Sosial

Jakarta (2/9)--- Pandemi Covid-19 dan kebijakan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) sangat berdampak terhadap semua sektor, termasuk terbatasnya akses perekonomian. Situasi serba sulit itu tentu menghantam segala sendi kehidupan, tidak terkecuali penyandang disabilitas.

Meskipun demikian, para penyandang disabilitas juga tidak menyerah. Berbagai kelompok penyandang disabilitas berupaya menjadi penggerak komunitas, penerimaan sosial, dan inklusivitas.

"Semangat dan gerakan ini dinilai dapat jadi salah satu solusi dalam memaksimalkan potensi dan kreativitas para penyandang disabilitas agar terus berdaya dan berkarya," ujar Deputi Bidang Kopordinasi Peningkatan Kesejahteraan Sosial Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Kemenko PMK) Tb Achmad Choesni saat membuka Rapat KSP Pemberdayaan Disabilitas Berbasis Kewirausahaan Sosial di Jakarta, Rabu (2/9).

Menurut Choesni, jejaring social enterprise menjadi sesuatu hal yang sangat diperlukan sebagai penggerak motivasi masyarakat dalam mempertahankan stabilitas ekonomi secara gotong royong.

“Wirausaha berbasis sosial ini merupakan model usaha yang dipercaya mampu menjaga keseimbangan keuntungan dalam berbisnis dan berdampak sosial positif secara berkelanjutan, sehingga mampu mengatasi masalah sosial,” ungkapnya.

Pengembangan wirausaha sosial, terang Choesni, dapat mendukung penyandang disabilitas dengan potensinya untuk bisa mencapai peningkatan kualitas hidup melalui kolaborasi sektor publik, swasta, organisasi disabilitas, lembaga akademik, dan sebagainya.

"Prinsipnya sharing job, sharing jaringan, dan sharing modal sesama anggotanya, tidak bergantung pada bantuan sosial baik dari pemerintah maupun swasta untuk mengembangkan sikap mandiri dan karakter wirausaha anggotanya dan saling menghidupi," pungkas Choesni.

Rapat KSP tersebut juga menghadirkan narasumber Penggiat Organisasi Disabilitas Mimi M Lusli. Ia menjelaskan telaah pemberdayaan penyandang disabilitas melalui pendekatan wirausaha berbasis sosial sambil terus menjajaki adanya peluang, tantangan dan keuntungan pengembangan wirausaha berbasis sosial bagi penyandang disabilitas seperti modal jaringan, biaya produksi, perhatian pemerintah dan sektor swasta atau CSR perusahaan.

Dengan itu, diharapkan dapat turut memberikan edukasi bahwa wirausaha berbasis sosial dapat menciptakan jaringan bisnis berbasis masa yang secara biaya operasional lebih murah. Terakhir, untuk mendapatkan rekomendasi kebijakan atas pemberdayaan penyandang disabilitas melalui pendekatan wirausaha berbasis sosial.

Kontributor Foto:
Editor :
Reporter: